Muhammadiyah, FPI Dan NU Ahlus Sunnah wal Jamaah

0
322

PIONLINE, BEKASI – Apresiasi setinggi-tingginya kepada Ust. Faris Fudla Fasih yang berani untuk menginisiasi seminar dengan tema “Titik Temu Ahlus Sunnah wal Jamaah” yang mengundang pembicara dari kalangan cendekia muda dari NU, Muhammadiyah dan FPI.

Ust. Faris Fudla Fasih dalam sambutan yang berisi kegelisahan hatinya menyampaikan bahwa sebagai Ustad muda alumnus Maroko begitu prihatin karena masih adanya oknum umat islam terutama di kalangan NU dan FPI yang saling menghujat dan saling menghina yang melambari dirinya meminta dukungan sang ayah KH. Tatang Tajudin, SQ yang dikenal dengan sebutan Kyai Jamesbon (Jaga Mesjid sama Kebon) yang akhirnya bersama dengan Majelis Muballighin Republik Dakwah dan Majelis Tallim Ar-Rofi’iyah menggandeng PCINU Maroko dan FPI serta Muhammadiyah menggelar hajat seminar.

Tambah Ustad Faris, sebetulnya panitia seminar  Titik Temu Ahlus Sunnah wal Jamaah yang diselenggarakan Selasa, 23 Juli 2019 di PP. Ar-Rofi’iyah, Cigarogol, Mekarsari, Cileungsi, Bogor, Jawa Barat juga mengundang pemateri dari kalangan Ormas Islam Persis, Wahabi dan HTI namun tidak berkenan hadir sehingga ada 3 pembicara cendekiawan muda yakni Abdullah Aniq Nawawi, Lc, MA (NU), Ahmad Luqman Hakim, S.S, M.Ed (Muhammadiyah), KH. Salman Al-Farisi (FPI).

Materi Seminar diawali dengan materi yang menarik bertajuk Aspek Sosiologis dari Ahlus Sunnah wal Jamaah dari cendekiawan muda Ahmad Luqman Hakim, S.S, M.Ed.

Lukman yang kandidat Doktor, temu “Kuali peleburan atau Melting Pot yang benang merahnya tergambar dalam Prinsip Ahlus Sunnah wal Jamaah yang tidaklah perlu dipertentangkan Selama sholatnya menghadap kiblat, Menghargai perbedaan pendapat dan tidak Radikal.

Sementara itu cendekiawan muda NU Abdullah Aniq Nawawi, Lc, MA lebih banyak menyitir persamaan  NU, Muhammadiyah dan FPI dengan runtutan dan kajian Islam yang dalam.

Titik temu Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah selalu menghindari berpecah belah dan selalu menjaga perdatuan umat, menghindari benturan baik pemikiran apalagi pisik.

Kelompok Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah kelompok mayoritas muslim Indonesia yang terhimpun dalam beberapa ormas Islam seperti NU, Muhammadiyah, FPI dan lainnya dalam bingkai persatuan yang eloknya dibangun dari bawah ke atas tegas Aniq.

Dalam sesi terakhir KH. Salman Alfarisi dari DPP FPI lebih banyak menambahkan dengan bijak berperi dan kesadaran bahwa FPI yang berdiri pada bulan Agustus 1998 didirikan oleh para tokoh NU jadi secara arif menyampaikan FPI itu adik kandung dari NU dan Muhammadiyah.

Kalaupun ada yang suka menjelekkan FPI atau membenturkan FPI dengan NU itu adalah oknum.

Kalapun pimpinan dengan pimpinan berselisih pemikiran janganlah yang dibawah ikut ribut namun yang biasanya ribut itu di level grass root atau akar rumput hendaklah kita tidak saling menghujat apalagi saling mengkafirkan.

FPI senantiasa eksis membangun kebersamaan, FPI siap membantu mengamankan setiap kegiatan ormas Islam yang berbingkai pada NKRI dan bermuara pada terwujudnya NKRI bersyariah, pungkas KH. Salman Alfarisi dari DPP FPI. (red)

Laporan: Agus Yusbiyadi-Iqbal Kausar MPI Bekasi

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here