Sehat Itu Penting

0
166

PIONLINE, BREBES-Berbicara sehat, konotasi yang melekat adalah hanya berpijak pada fisik. Padahal yang fundamental yakni sehat berfikir dan sehat hati sebagai bamper melakukan keputusan dan tindakan.

Pemerintah lupa atau setidaknya pura – pura lupa apa yang menjadi gugus tugas dari sumpahnya “Siap membangun kwalitas hidup rakyatnya” dan sangat berakibat tragis terhadap ketahanan sebuah state, karena arah kebijakan tidak memiliki roll episode building.

“Morality” demikian yang di tulis Asyhari Usman seorang wartawan senior memberi red line dalam tulisannya (28/8). Saya sepakat dengan pernyataannya bahwa Nation telah kehilangan nilai “Moralitasnya” dan Pengakuan obyektifitas dari rakyatnya pasca pilpres 2019, sehingga bagai tubuh yang rapuh tanpa imun di dalamnya.

Rangkaian sakitpun terus di coba penyembuhannya. Namun kesalahan fatal dalam diagnosis dan minum obat yang di berikan oleh para dokternya, bukan menjadi sembuh justru bertabah parah..!

Indonesia butuh pemimpin yang sehat dari pikirannya sehingga menghasilkan produk – produk real bukan (hoax) menembukan ide brilian serta solusi cerdas tidak menciptakan sekedar opini publik pun pengalihan dari lepas sebuah tanggung jawab (Real Award) bisa di sandingkan sebagai sebuah karya walau produknya yang di hasilkan tidak nampak (frame citra personality).

Berikutnya, pemimpin 250 juta jiwa juga seorang yang Sehat Hati terukur dengan rangkaian renungan jernis tanpa tendensius kepenting externa. Disini akan di pertaruhkan seberapa kuat memiliki daya dobrak atas sesuatu yang di sebut dengan “Kesejahteraan, Keadilan dan hak berpendapat (critisi, red)” menjadikan rakyat (Pemilik Kedaulatan) merasa damai menjalani berkehidupan di negeri sendiri (Bukan) membiarkan,pembulliyan, provokasi berkembang liar tanpa penanganan hukum yang adil (SARA). Hati akan menjaga “DIRINYA” dari ambisius Internal maupun internal.Jujur untuk rakyat..!

Berikutnya adalah Sehat Ekonomi untuk penguatan “Pembiayaan” Negara kuat salah satunya di tunjang dari sini.

Menteri keuangan Sri Mulyani pernah menyatakan bahwa keuangan (APBN, red) mengalami defisitdan akan  menutupnya dengan hutang “Ini Sangat Parah” jadi selama periode 5 tahun rakyat di jejali makanan dari “HUTANG”.

Ada sebagian kecil rakyat berkata “Wajar negara berhutang, kan bukan kita saja…? Mungkin yang di maksud negara lainpun juga berhutang, lontaran pemuja si penghutang.

Pemikiran tersebut sangat keliru..dimanapun konsep hutang Kreditur (Pemberi hutang red) punya “Daya Paksa” atas Debitur (si penghutang red) artinya Negara (presiden, red) sebagai pengejewantahan amanah rakyat harus bisa “Melepas” cengkraman ini jika memiliki keberanian untuk mewujudkan yang di amanatkan oleh Pancasila dan UUD’45.

Menolak pembangunan adalah keniscayaan tapi meminta pembangunan berkarakter keadilan dan kesejahteraan ini yang di harapkan oleh rakyat tanpa harus menanggung Rp.13 juta /orang/ bulan beban hutang negara. Bagaimana berkomunikasi sehatkah ?

sebuah negara hadir ditengah2 rakyat (bukan cuma selfi menghasilkan dokumentasi) bagi seorang pemimpin (Presiden red) di tuntut menjadi orang yang sehat berkomunikasi tingkat Chip Ambasador jernih dan futuristic dalam penyelamatan tekanan (seperti) guna membangun skema penyeimbangan terukur (Komunikasi Dalam & International) Dari pada itu akan menghasilkan dan menghadirkan TRUST

“No Blaindless” tulis Asyhari Usman di laman medsos. Pemimpin yang buta akan bisa cuma bicara sedangkan real actionnya tak jalan. Kesempatan seperti itu akan di mainkan oleh Internal/external yang ambisius dan berkepentingan.

Indonesia negara berpenduduk 250 juta jiwa “BUTUH” pemimpin yang sangat memahami GEO “POLEKSOSBUDHANKAM” tak usah malu untuk melakukan hal ini meski jargon ini di ciptakan di era orde baru “tapi kalo memiliki nilai positif kenapa tidak. !

Pemimpin siapapun (Pemerintah, DPR, pejabat negara dll) setidaknya “SEHAT” yaitu Sehat Berfikir, Sehat Hati, Sehat Berkomunikasi 3 Komposisi di laksanakan secara integrad, akan mampu memberi “RASA” pada rakyat.

“BANGUNLAH JIWANYA, BANGUNLAH BADANYA UNTUK INDONESIA RAYA” sebait lagu Indonesia Raya.

Penulis, Mohammad Riyadi Mpi Brebes

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here