Cara Berpakaian Gerakan Samin Simbol Perlawanan

0
168

PIONLINE, BLORA – Ahirnya Tugu Sedulur Sikep Samin, berdiri di Dusun Jipang, Desa Margomulyo, Kecamatan Margomulyo, Kabupaten Bojonegoro.

Raden Kohar yang kemudian di kenal dengan nama Samin Soerosentiko merupakan tokoh pelopor pergerakan ajaran Samin. Terlahir di Desa Ploso Kediren 1859, Kecamatan Randublatung, Kabupaten Blora, Jawa Tengah.

Pergerakan Samin atau Saminisme adalah salah satu pegerakan masyarakat yang ada di Indonesia. Masyarakat lebih tepat Komunitas ini adalah keturunan para pengikut Samin Surosentiko yang mengajarkan sedulur sikep. Yang pada dasar nya, merupakan bentuk perlawanan masyarakat kepada penjajah Belanda dengan mengobarkan semangat perlawanan di luar kekerasan.

Melawan dengan tanpa kekerasan. Saat Pemerintah Belanda berkuasa di Indonesia, Samin Soerosentiko dan pengikutnya menolak bayar pajak berikut segala peraturan sang penjajah. (ini merupakan bentuk perlawanan)

Samin Soerosentiko putra dari Raden Surowijaya atau Samin Sepuh, seorang priyayi asal Bojonegoro. Samin Soerosentiko dilahirkan di Desa Ploso Kediren 1859, Kecamatan Randublatung, Kabupaten Blora, Jawa Tengah.

Samin yang meninggal di tanah pembuangan 1914 meninggalkan sikap dan ajaran yang kuat kepada pengikut nya yang tersebar di berbagai wilayah. Mulai di Kabupaten Blora, Kabupaten Bojonegoro, Kabupaten Rembang, Kabupaten Pati, Kabupaten Kudus, hingga di Kabupaten Batang, Jawa Tengah.

Yang tak pernah hilang dari komunitas Samin, yakni kejujuran, kesetaraan, dan rasa persaudaraan. Ada nilai-nilai yang selalu mereka jaga dan jalankan bahwa  manusia hidup Jangan iri hati, dengki, bertengkar. Dan, jangan mencuri dan merampok.

Ajaran Gerakan Samin Surosentiko selalu menentang kekerasan. Semua perlawanan mereka dilakukan dengan cara diam, bersikap, dan berargumen. Tak banyak yang tahu jika mereka tak mau membayar pajak dan tak mau mblandhong (menjarah hutan), dan ini merupakan bentuk perlawanan berjuang melawan penjajah Belanda.

Pemerintah Belanda berkuasa di Indonesia, para Samin Soerosentiko dan pengikutnya menolak bayar pajak berikut segala peraturan sang penjajah. Tentu saja sikap ‘memberontak halus’ ini membuat jengkel Pemerintah Belanda waktu itu.

Cara berpakaian para gerakan perjuangan Samin Soerosentiko dan pengikutnya sederhana dan sangat simbolik, Pakai udengan atau ikat kepala, pakaian hitam yang menjadi simbol perlawanan atas penindasan pada waktu itu.

KH Ronggosutrisno Thahir

Oleh KH Ronggosutrisno

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here