Harga Bawang Itu, Sebuah Catatan

0
27

PIONLINE – Harapan besar punah sudah, kini dan beberapa tahun ke belakang di rasakan pahit. Bagaimana tidak di saat panen raya harga bawang Brebes jatuh terusungkur. “Boro – boro beli baju Mas” Ujar warta pedagang pakaian keliling menanggapi keluhan para petani.

Lebih jauh dia bercerita sepanjang jalur selatan petani bawang banyak yang ngeluh karena harga jual tidak sebanding dengan biaya yang di keluarkan. “Obat bawang dan tenaganya sudah mahal” Jelasnya lebih spesifik.

Tidak di pungkiri harga obat – obat pertanian cukup mengocek uang dan lebih parah lagi bahwa obat tersebut dapat utang dari toko obat, yang akan di hayar saat telah di jual bawangnya.

“Banyak nunggak” Ujar Watum pemilik toko pertanian tentang utang petani bawang yang berhutang produk padanya.

“Kalo keadaan seperti ini kami bisa apa, paling nunggu petani iklas membayar untuk putaran modal ” paparnya rinci.

Keadaan ini sepertinya bekum pernah ada solusi yang tepat untuk mengatasinya. Pemerintah harus memiliki skema yang jelas dan teraplikasi dengan baik baik pendampingan tanam ataupun purna tanam.

Harga obat pertanian yang cukup membuat dada petani bawang sesek  dan terjepit apa lagi ada permainan para bandar.

“Perkilo Rp.10.000; petani mau dapat apa …? Tanya Wirjo yg juga seorang perangkat desa Luwung Gede Kec.Larangan

“Saat ini normalnya Rp.15.000; baru petani bisa menikmati hasil kerjanya.

Pemerintah harus hadir,

Jalan cepatnya adalah pemerintah harus hadir untuk menjaga kestabilan produk dan obat2an serta mengatur tata kelola pola tanamnya.

Sejak Presiden jokowi melancarkan program kembali bertani, awalnya petani bawang bergembira karena mendapat bantuan dan akhirnya rame2 pada nanam bawang, numun justru ini menjadi pintu musibah tani bawang, karena produksi bawang mengalami over produksi. Belum lagi tamu bawang impor dari vietnam dan China, nenambah luka yang di tetes luka ” Perih “.

Pentani bawang pun berkurang ,mereka mengalami beban hutang yang cukup besar.

“Sekarang tidak, entah lain waktu sih ..Modalnya jebol “tambah Wirjo juga,alasan tidak nanam lagi.

Koperasi Bawang yang ikut cawe2 soal bawangpun tak banyak berbuat karena pengendalian harga di serahkan pada mekanisme pasar, sehingga tidak bisa membuat Batasan tertinggi dan terendah (harga, red ).

Dilema tani bawang bukan pada petaninya tapi justru pada kekurang intensifnya pemerintah mengawal harga dan Saprodinya..hal ini harus bisa lebih di sikapi dengan cermat dan baik agar ” Air Mata Petani ” tidak terjadi gegara harga bawang merah Breves Jeblok..

Catatan: Mohammad Riyadi MPI Brebes

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here