Urungnya E-Voting Menuju Digital Building

0
30

PIONLINE BREBES Rambahan satelit menuju perubahan linier digital tidak bisa di bendung, server komunikasi telah sampai menusuk jantung terkecil di pedesaan. Bergerak lebih cepat bagai “badai” yang sulit di deteksi. Lihat saja rambahannya sudah ke nadir pencapaian. Anak umur 3 tahun saja sudah faham mesin pendamping setan ini. Salah siapa…!

Gagalnya Pilkades serentak di Kabupaten Brebes dengan sistem e-voting merupakan “tamparan” memalukan dari proses perjalanan menuju desa mandiri “Digital Building “

Ada bisik kencang bahwa e-voting yang akan di jalankan dalam pilkades serentak di wilayah Brebes adalah sebuah “ambisi” mister X atau dari sebuah dapur yang di anggap ngotot menggunakan sestem e-voting. Sehingga di sinyalir ada suatu gelombang penolakan alasannya ribed dan sulit serta alasan tempat yang kurang luas atau kurang memadai.

Pejabat Pemerintah Kabupaten Brebes yang di beri otoritas mengelola management “Pilkades” menegaskan bahwa e-voting satu pilihan tepat dan lebih efesiensi dan elegalitas produk yang di hasilkan. “Tak berubah tetap e-voting” ujarnya bersemangat saat melakukan sosialisasi kesiapan sestem ini dalam pilkades serentak.

Pada prinsipnya mengikuti arus administratif digital itu penting, apalagi berkenaan administrasi desa yang mengacu pada  kebijakan “top down” dengan pelaporan terintegrated “bottom up”.

Namun secara “mendadak” pelaksanaan e-voting di batalkan secara mendadak dengan alasan “alat belum siap” tutur Idza Priyanti orang nomor satu di Brebes. Memang paling logika alasan tersebut dan tak kan banyak mendapat sorotan dan perdebatan “cari aman”.

Namun dari indikator yang terlihat sepertinya tidak demikian, ada letupan yang mengatas namakan rakyat via para balon semacam menggugat pada pemerintah sebagai pelaksana pilkades tingkat kabupaten. 

Aroma ini sangat terasa betul. Saat Panitia pilkades rapat bersama Balon mereka  bersepakat seperti orkresta menyuarakan hal yang sama yakni menolak e-voting dan atau dengan suatu alasan setuju e-voting tapi di gelar di lapangan jangan di gedung. Alasan yang sebenarnya kontradisi,mengingat korelasinya dengan mesin elektrikal yang sensitif kerusakannya.

Ada apa Bupati..?

Ada pertanyaan yang merembul muncul dalam pikiran saya yakni apa sebenarnya yang terjadi..? Bagi pemikir yang melompat di Sepuluh langkah ke depan hal ini patut dan sangat di sayangkan “BUPATI” sebagai pemegang otoritas mengambil sikap balik kiri dari Ketegasan menjadi Ketakberdayaan mewujudkan “ambisi desa mandiri”.

Saya kira wajar jika ada desakan dari manapun dengan setumpuk argumentatif yang di sampaikan meski ada bumbu pungutan atas nama masyarakat. Seharusnya Bupati tampil lebih elegant penyampaikan Visionernya di era publik digital. Sangat di sayangkan memang, bupati di smack down di ronde pertama sudah terkapar menyerah.

Padahal sebagai seorang ” Stronger ” bisa melakukan upaya celah mendorong energin nya, toh semua kebijakan di arahkan pada satu titik Kemandirian.Tapi ternyata di akhiri kegagalan dan berantakan dan tak mampu  menghadang air bah yang deras menghantamnya. karena ” tidak mempunyai visi membangun dengan di buatnya kanal-kanal. 

Sejelasnya masyarakat Brebes tidak bodoh, apalagi hanya sekedar “nutul” tapi paradigma calon pemimpin yang tidak menyiapkan diri untuk memahami regulasi informasi dan meng-edukasi publik.

Berdiri di titik awal atau di tempat yang sama tanpa ada inovasi merupakan kemunduran berfikir yang (bertahun-tahun) di jalankan.

Alam tetap akan berubah. Dan tidak bertanya Mau atau Tidak…!

Penulis: Mohammad Riyadi MPI Brebes

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here