107 Tahun Muhammadiyah

0
30

Oleh: Dr. Adian Husaini (Putra seorang Pengurus Muhammadiyah Padangan Bojonegoro)

PIONLINE Senin 18 November 2019, Organisasi Islam Muhammadiyah, genap berumur 107 tahun. Kiprah dan jasa Muhammadiyah bagi bangsa dan negara Indonesia tak diragukan lagi.

Presiden Soekarno mengaku, sejak umur 15 tahun,  sudah terpesona pada sosok pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan. Tahun 1938, Bung Karno resmi menjadi anggota Muhammadiyah.

Saat memberikan sambutan pada Muktamar Muhammadiyah pada 25 November 1962 di Jakarta, Bung Karno berpesan: “Jikalau saya meninggal supaya saya dikubur dengan membawa nama Muhammadiyah atas kain kafan saya.” (Lihat, buku karya Solichin Salam, dalam bukunya, K.H. Ahmad Dahlan, Reformer Islam Indonesia (1963).

Kini, di usianya yang ke-107 tahun, perkembangan Muhammadiyah sangatlah pesat. Muhammadiyah memiliki 166 Perguruan Tinggi, tersebar di seluruh di Indonesia; ribuan sekolah, rumah sakit, panti asuhan, dan lembaga amal usaha lainnya. 

Setiap tahun,Muhammadiyah melahirkan ribuan sarjana – salah satunya, anak saya. Dalam sebuah obrolan berdua, salah satu tokoh NU yang juga mantan Menteri Agama RI,  Maftuh Basyuni (alm.),  menyampaikan ke saya, “Entah apa jadinya Indonesia, andaikan tidak ada Muhammadiyah.” 

*****

Sebenarnya, untuk apa Muhammadiyah didirikan?  Dalam buku K.H. Ahmad Dahlan, Reformer Islam Indonesia (1963), ditulis bahwa sebab-sebab didirikannya Persyarikatan Muhammadiyah adalah:

(a) Umat Islam tidak memegang teguh tuntunan al-Quran dan Sunnah Nabi sehingga merajalelanya syirik, bid’ah, dan tachyul. Akibatnya agama Islam tidak memancarkan sinar kemurniannya lagi,

 (b) ketiadaan persatuan dan kesatuan diantara umat Islam, akibat dari tidak tegaknya ukhuwah Islamiyah serta ketiadaan suatu organisasi Islam yang kuat, 

(c) kegagalan dari sebagian lembaga-lembaga pendidikan Islam dalam memproduksi kader-kader, karena tidak lagi dapat memenuhi tuntutan zaman, 

(d) karena keinsyafan akan bahaya yang mengancam umat Islam, bagi keluhuran serta keberlangsungan agama Islam di Indonesia, berhubung dengan kegiatan dari zending dan missi Kristen di Indonesia,

 (e) adanya tantangan dan sikap acuh tak acuh (onverschillig) atau rasa kebencian di kalangan intelegensia terhadap agama Islam, yang oleh mereka dianggap sudah kolot serta tidak up-to-date lagi, 

(f) ingin menciptakan suatu masyarakat, dimana di dalamnya benar-benar berlaku segala ajaran dan hukum-hukum Islam.

Dalam disertasinya di Temple University (1995) berjudul The Muhammadiyah Movement and Its Controversy with Christian Mission in Indonesia, Dr. Alwi Shihab mengungkapkan, misi awal pendirian Muhammadiyah adalah dalam rangka membendung Kristenisasi dan gerakan Free Mason. 

Desertasi ini kemudian diterbitkan menjadi buku dengan judul “Membendung Arus: Respons Muhammadiyah terhadap Penetrasi Misi Kristen di Indonesia”.

********

Lalu, apa tujuan Muhammadiyah? Menurut Anggaran Dasar-nya, Muhammadiyah adalah Gerakan Islam, Da’wah Amar Ma’ruf Nahi Munkar dan Tajdid, bersumber pada Al-Qur`an dan As-Sunnah.  Muhammadiyah berasas Islam.

Ada pun maksud dan tujuan Muhammadiyah ialah:  “MENEGAKKAN DAN MENJUNJUNG TINGGI AGAMA ISLAM SEHINGGA TERWUJUD MASYARAKAT ISLAM YANG SEBENAR-BENARNYA.”(http://www.muhammadiyah.or.id/id/content-51-det-anggaran-dasar.html).

Terwujudnya “Masyarakat Islam yang sebenar-benarnya!”  Itulah tujuan perjuangan Muhammadiyah. Bagi Muhammadiyah dan bagi umat Islam, tidak sulit mencari model  ‘masyarakat Islam yang sebenar-benarnya’ itu. 

Sebab, masyarakat seperti itu sudah pernah diwujudkan oleh Nabi Muhammad saw, yang nama beliau digunakan sebagai nama Organisasi Muhammadiyah. Masyarakat Madinah di masa Nabi saw adalah masyarakat Islam yang sebenar-benarnya, masyarakat ideal, masyarakat utama, masyarakat terbaik. 

Sebab, budaya ilmu dan akhlak mulia menjadi kriteria utama keunggulan. Masyarakat ideal hanya akan mungkin terwujud oleh usaha dan kerja keras manusia-manusia ideal (insan kamil). Maka, bidang pendidikan menjadi kiprah utama Muhammadiyah. 

Lembaga-lembaga pendidikan Muhammadiyah dicitakan melahirkan manusia-manusia hebat, manusia terbaik, manusia mulia, manusia unggul, manusia beriman, bertaqwa, dan berakhlak mulia. 

Kini, diusianya yang ke-107 tahun, tidak ada salahnya, para tokoh dan warga Muhammadiyah merenung dan mengevaluasi: sampai dimana perjalanan Muhammadiyah? Masih panjangkah jalan yang harus ditempuh untuk meraih tujuan yangmulia itu?

Kita telaah dan evalusasi, apakah sekolah-sekolah dan kampus-kampus kita benar-benar telah dan terus melahirkan manusia-manusia yang beriman, bertaqwa dan berakhlak mulia? 

Apakah guru-guru, sarjana-sarjana hukum, dan dokter-dokter yang kita hasilkan dari kampus-kampus kita merupakan insan-insan pejuang yang meneladani kehidupan Nabi Muhammad saw dan para pejuang Muhammadiyah yang ikhlas?

Di usia Muhammadiyah ke-107 tahun ini, saya ikut mendoakan para pejuang Muhammadiyah – termasuk ayah saya — yang telah mendahului kita. Semoga amal ibadah dan perjuangan mereka diterima oleh Allah SWT. 

Juga, kita doakan para pemimpin kita. Semoga mereka mampu mengemban amanah sebaik-baiknya. Amanah mereka amatlah berat; dunia-akhirat. Selamat bermilad 107 tahun. Semoga sukses dan berkah! (Pesantren Attaqwa Depok, 18 November 2019). 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here