Peserta Didik PKBM Gurita Selatan Mengikuti Ujian Paket B Dan C 

0
116

LEBAK PIONLINE –  PKBM Gurita Selatan Laksanakan Ujian Kelompok Belajar Tahun Ajaran 2019-2020 bertempat di gedung MDTA Nurul Huda Warung Kurupuk Desa Pasir Gembong Kecamatan Bayah Kabupaten Lebak Provinsi Banten, Sabtu (14’12/2019)

Di jelaskan Suhenda Eko, selaku Ketua PKBM Gurita Selatan, bahwa kegiatan kali ini untuk ujian sekolah tahun ajaran  2019-2020, dan untuk kegiatan pelaksanaan ujian yang ke empat kalinya, dan dipadatkan kegiatannya, akan dilaksanakan selama dua hari.

“Peserta ujian ada 88 (delapan puluh delapan),peserta ujian. 20 (dua puluh) orang peserta ujian paket c, sementara untuk paket B sejumlah 68 (enam puluh delapan) orang, terang Suhenda.

Saat ditanya kendala yang di dirasakan oleh pihak penyelenggara PKBM,  terutama dalam menampung aspirasi warga belajar.

Suhenda Eko menjelaskan, karena pesertanya dari berbagai latar belakang, yang menjadi permasalahan untuk tingkat kehadiran yang tidak bisa seratus persen.

“Karena kendala jarak atau pekerjaan, hal ini tentunya perlu kami benahi. Sebetulnya minat belajarnya sangat luar biasa, tapi memang masih banyak yang terkendala dengan aktivitas mereka. Karena memang peserta belajar ini dari berbagai latar belakang, mereka ada yang sudah menikah atau terbebani oleh kesibukan aktivitas masing-masing,papar Suhenda. 

Harapan ke depan, pemerintah mungkin bisa lebih melirik lagilah terhadap keberadaan pendidikan non formal. Karena keberadaan pendidikan non formal itu sangat luar biasa manfaatnya, untuk membantu masyarakat yang memang membutuhkan jenjang pendidikan.

Artinya untuk memberikan kesempatan  kepada masyarakat yang sudah tidak mungkin lagi mengikuti pendidikan ke sekolah formal,” tambah Suhenda. 

Saat ditanya mengenai keberadaannya PKBM itu sendiri, Ade selaku Penilik Dikmas, menjelaskan, “Bukan PKBM ya, tapi pendidika non formal. Saat ini paket C itu sangat dibutuhkan oleh warga masyarakat, terutama Kabupaten Lebak barangkali. Karena mungkin mereka pada sekian tahun yang lalu tidak sempat sekolah, mungkin karena ekonomi atau juga hal yang lain sehingga mereka tidak sempat melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. 

PKBM itu kan ibarat bengkelnya pendidikan, jadi ketika ibarat motor mogok kan harus di bawa ke bengkel, baru dia bisa berjalan lagi, kalau dealer kan jelas mengurus motor baru, katanya. 

Tentunya peserta PKBM ini tidak bisa di samakan dengan mereka yang menempuh pendidikan formal, seperti di tingkat SMP, SLTA yang reguler yang usianya masih muda  pasti memiliki kecerdasan berbeda dengan mereka yang belajar paket,  yang orang -orang pesertanya sudah bukan usia sekolah, sehingga daya fikirnya juga pastilah berbeda. 

Oleh karena itu kalau ada kekurangan di berbagai sisi, dari peserta PKBM mohon maklum, apalagi penyelenggara PKBM sendiri rata-rata tidak memiliki gedung dan tidak disediakan oleh pemerintah, dan mudah -mudahan saja kedepan mereka bisa beraktivitas di gedung sendiri, dan lebih mendapat perhatian pemerintah agar dapat meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dalam mencapai jenjang pendidikan yang lebih tinggi.” ungkap Ade. 

Saat ditanya bagaimana pengakuan pemerintah terhadap siswa lulusan sekolah non pormal, Ade menjelaskan. 

“Ya kalau status lulusan PKBM itu sama diakui oleh pemerintah, juga tentunya bisa kuliah ke perguruan tinggi negeri. Bisa menjadi pegawai atau jadi pejabat tergantung kemampuan seseorang, karena setiap kecerdasan tidak bisa diukur ijazah. Banyak orang yang tidak memiliki ijazah tapi cerdas, artinya  tidak diukur dari kecerdasan saja,  tapi tergantung dia mau belajar atau tidak, terangnya. (red)

Laporan: Asep Dedi Mulyadi MPI Banten 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here