Gagal Di Kursi Kekuasaan

0
37

PIONLINE BREBES Wajah baru bersinar di putaran politik, mereka maju untuk mengambil alih kekuasaan dan menjadi orang nomor satu.

Keyakinan itu bergelora di medan strategy untuk menjadi yang terbaik dan pantas di perhitungkan, bak singa mengaum suaranya menggelegar dari atas panggung aksi simpati,mereka para kandidat calon Kepala Desa.

“Saya pantas dan mampu menjadi Kepala desa” demikian suara di atas mimbar Demokrasi rakyat dari salah seorang kandidat yang di nukil dari youtube pilkades Kecamatan Ketanggungan.

Alhasil gempuran keras ini membuat para petahana harus extra keras metode progres strategic baru dan segar agar mampu menuju titik tanggap pada konstituenya.

Bantuan Dana Desa,

Bagi petahana di awal kucuran dana APBN milyaran rupiah merupakan infus darah baru untuk meyakinkan masyarakatnya dengan dalih mampu mewujudkan project Infrastruktur yang hitungan 100% bisa di wujudkan dengan sprint stimulan.

“Slogan kami, Lanjutkan..” papar Tarlan Kurniawan yang juga di pajang besar di baliho (Apk-red).

Tiada yang salah soal ini karena memang Village Building harus terus di laksanakan siapapun Kepala Desa terpilihnya. Setidaknya petahana sudah meletakan ukuran atau timbangan bagi penerusnya jika tidak terpilih.

Di mata publik ternyata berbalik cerita kini masyarakat dengan banyaknya informasi yang gampang di akses. Sehingga mereka lebih faham bahwa dana desa itu adalah kepastian. Salah satu tokoh masyarakat Daklim menjelaskannya. “Kan Dana Desa itu pasti turun, Pemerintah Desa hanya merekap mana yang akan di bangun” jelasnya.

Lebih lanjut pula tentang dana dari aspirasi dewan yang setiap tahun yang sengaja untuk konstiuennya. “Siapapun dewannya pasti suatu saat butuh suara di pileg,wajar saja memberikan ke desa ” terangnya rinci.

Sebenarnya yang di butuhkan masyarakat adalah Final Service dari seorang pemimpinnya bagaimana dia tahu apa yang di harapkan dan apa yang di inginkan warganya juga apa yang harus di lakukan serta tahu apa yang tidak harus di lakukan sebut Sarman SP.d berdiplomasi, senior ketua panitia pilkades saat di minta pendapatnya di sela- sela pesta pilkades ( 15 /12 ).

Dari pantaun Patriot  yang dihubungi melalui saluran telefon ke panitia pilkades dan croscek data yang masuk ternyata para petahana yang menggunakan jargon “LANJUTKAN” hampir 95 % gagal terpilih kembali baik di periode keduanya atau yang ke tiga kalinya.

Mereka tersungkur di telan oleh jargon yang tidak populer tersebut. Dan prediksi kedepanpun pada kades terpilih barusan kemungkinan ada pil pahit yang ditelan jika tidak menghunakan strategy yang baru dan visioner.

Kepala Desa seharusnya lebih liar daya imajinasinya agar tidak terjebak ritme rutinitas yang tidak populer.

Serangan fajar,

Miris sangat miris jika Demokrasi untuk memimpin menggunakan cara “LICIK” untuk mendapatkan kekuasaan.Para kandidat berduit tidak ada rasa malu tebar uang demi meraih kemenangan. “Lima puluh ribu” lumayan buat beli beli beras ujar salah seorang warga tanpa tedeng aling.

Bisa di bayangkan kalo satu rumah ada tiga orang setidaknya 150.000; dari satu kandidat jika ada 3,4,5 berapa uang yang di barterkan untuk 1.800 pemilih @ 100.000; di kisaran 180 juta, belum lagi bingkisan lain seperti beras dll.

“Sekarang bukan memilih figur terbaik tapi memilih yang bisa memberi lebih” sorong beberapa kandidat di beberapa desa yang kalah, ter pantau patriot.

Namun hingar bingar Partisipasi masyarakat di pilkades kali ini cukup lumayan mencapai 85 % dan terbilang aman tak ada letupan api yang memanas.

Perilaku elit politik yang tak memiliki martabat pasti akan berbuat jahat hanya ingin menjadi pejabat sehingga tidak merasa malu berkhianat pada rakyat.Sehingga contoh ini telah salah kaprah dianggap lumrah.

Catatan Jurnalistik: Mohammad Riyadi MPI Brebes

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here