Nelayan Binuangeun Berharap Menteri KKP Edhy Prabowo Secepatnya Revisi Permen Nomor 56 Tahun 2016

0
60

LEBAK PIONLINE Masyarakat Nelayan Pelabuhan Binuangeun Kabupaten Lebak Provinsi Banten mendeklarasikan dukungan terhadap rencana Menteri Kementeriqn Kelautan Dan Perikanan (KKP) Republik Insonesia yang baru Edhy Prabowo yang akan merevisi Permen No.56 Tahun 2016, bertempat di TPI Binuangeun, Jum’at (03/01/2020).

Pasalnya, menurut para nelayan adanya Permen tersebut telah menimbulkan keresahan dalam aktivitas dan mebuat kesengsaraan bagi nelayan.

Seperti yang diungkapkan Ustazd Samsudin selaku tokoh masyarakat yang juga tokoh agama yang berpropesi nelayan di binuangeun kepada wartawan MPI mengatakan, “Kami masyarakat nelayan sangat merespon positif terkait apa yang akan dilaksanakan oleh bapak Edy prabowo yang akan merevisi peraturan menteri No.56 Tahun 2016. ini adalah secara tidak langsung akan menolong kami, yang mana sebelumnya kami sebagai nelayan kecil, kena dampak secara langsung oleh terbitnya permen KKP nomor 56 Tahun 2016, tentang  tentang larangan penangkapan lobster, kepiting dan rajungan, ini telah berdampak secara luas, baik secara ekonomi dan sosial.

Intinya kami masyarakat nelayan di sini sangat setuju, dan berharap ini bukan cuma wacana, akan tetapi agar secepat mungkin menteri KKP membuatkan permen baru, agar benih lobster ini dilegalkan dan dapat kami tangkap sebagaimana mestinya, adapun teknisnya untuk dijual secara lokal maupun internasional, dibudidaya maupun eksport.

Dengan dicabutnya atau di revisinya permen KKP No. 56 Tahun 2016 akan memberikan suatu keuntungan bagi kami, di mana sebelumnya kami ini sebagai masyarakat merasa resah gelisah dengan adanya permen ini, karena ini secara tidak langsung telah membunuh kami, karena telah merampas kehidupan kami. Permen ini begitu pahit buat kami,  karena dalam permen ini tertuang bahwa kita tidak boleh menangkap benih lobster maupun lobster. Dengan terbitnya Permen baru yang dikatakan oleh pak menteri sekarang, ini adalah keuntungan buat kami, jadi yang sebelumnya kami merasa tidak nyaman, resah dalam aktivitas sehari-hari, kami mungkin ke depannya agak bisa enak, apapun teknisnya bagaimana pemerintah, kita mau budidaya atau mau eksport itu kita mendukung semuanya, yang penting ini legal”,  papar Ustazd Samsudin.

Senada yang dikatakan Wading riana, Ketua Koperasi Nelayan Koperasi Mina Muara Sejahtera.

“Dalam hal ini saya sangat mendukung dengan rencana  menteri KKP baru, yang akan melegalkan penangkapan maupun pengiriman baby lobster, baik lokal atau ekspor.

Kemudian perlu saya sampaikan, bahwa dengan keberadaan lobster di kami, masyarakat merasa sejahtera, secara ekonomi mengalami peningkatan yang signifikan, itu yang kami rasakan”,  jelasya.

Di lapangan atau di masyarakat  nelayan sendiri banyak hal-hal yang positif, khususnya dari sisi ekonomi masyarakat nelayan, lanjutnya.

“Saya sangat berikan apresiasi ketika Bapak Menteri yang rencananya akan melegalkan  penangkapan beby lobster,  kemudian sampai eksport,  kami mendukung dan sangat setuju. Kami mengharapkan secepatnya Bapak Menteri untuk melegalkan, supaya masyarakat ini tenang,  supaya masyarakat ini nyaman,  tidak terkriminalisasi oleh hukum.  Karena selama ini kami merasa tersiksa dengan adanya permen nomor 56 tahun 2016, ungkap Wading.

Yang selama ini menjadi permasalahan dan kendala di lapangan bagi masyarakat nelayan adalah, terutama ketika masyarakat nelayan melakukan aktivitas itu dalam keadaan tidak nyaman, karena mereka terus dipantau oleh aparat penegak hukum, mereka banyak juga yang ditangkap dan di penjara, jadi masyarakat dalam keadaan tersiksa dalam melakukan sebuah aktivitasnya”, pungkas Wading.

Sementara itu Johan, Tokoh pemuda Nelayan Binuangeun mengatakan, pengambilan baby lobater itu sifatnya musiman, dan seandainya lobster itu tidak di ambil oleh nelayan hanya akan menjadi plangton atau santapan ikan.

“Para nelayan bisa menangkap baby lobster itu hanya musiman, dan seandainya baby lobster itu tidak diambilpun oleh nelayan hanya akan menjadi santapan ikan, katanya. Kita ambil contoh, apabila musim ikan layur seperti sekarang ini, atau muaim ikan yang lain, itu baby lobster tidak ada, dan itu menandakan bahwa baby lobster tersebut habis dimakan oleh ikan”, ujar Johan. (red)

 

Laporan: Asep Dedi Mulyadi MPI Banten

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here