Penegak Hukum Tumpul Terhadap Pertambangan Ilegal 

0
92

LEBAK  PIONLINE Semaraknya penambangan ilegal batu bara telah berlangsung bertahun-tahun di wilayah Kecamatan Cihara, Kecamatan Panggarangan dan Kecamatan Bayah Kabupaten Lebak Provinsi Banten menjadi sorotan banyak pihak.

Penambangan ilegal tersebut, tidak hanya dilakukan di tanah milik masyarakat saja, akan tetapi telah merambah ke tanah area milik Perhutani dan Perkebunan Karet.

Kegiatan penambangan ilegal tersebut memang akan memberikan untung besar bagi si Bos tambang, akan tetapi juga merugikan pihak lain.

Pasalnya Bos tambang tidak memberikan jaminan kesehatan atau kecelakaan kerja apalagi sampai meninggal dunia, juga tidak masuknya pajak ke kas negara.

Juga banyak masyarakat menghawatirkan, eksploitasi Sumber Daya Alam (SDA) secara liar dan tanpa adanya jaminan reklamasi itu, tentunya akan merusak alam dan dikhawatirkan akan memicu terjadinya bencana alam di kemudian hari.

Banyak pihak menyayangkan, setelah sekian lama penambangan ilegal itu berlangsung, pihak-pihak terkait atau aparat hukum terkesan tutup mata, dengan kenyataan hingga sekarang kegiatan penambangan ilegal tersebut berjalan aman-aman saja, seakan-akan kegiatan yang mereka lakukan itu legal.

Seperti salah satu fakta yang ditemukan wartawan dilapangan, ribuan meter kubik (M³) batu bara dengan omzet milyaran rupiah perbulan yang menggunung dibeberapa stokfile pinggiran jalan raya, baik itu jalan nasional ruas Kecamatan Cihara – Kecamatan panggaran, Desa Pamubulan Kecamatan Bayah atau jalan Kabupaten di kampung Pulo Manuk Desa Darmasari Kecamatan Bayah, terlihat gunungan-gunungan batu bara dan mobil-mobil Truk Tronton pengangkut batu bara dikirim ke luar kota,  melakukan kegiatannya dengan nyaman.

Saat wartawan konfirmasi Waka. ADM Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) Banten, terkait semaraknya penambangan batu bara ilegal di area perhutani Panjaungan Timur dan Bayah, mempersilahkan untuk mempertanyakan ke Asper  BKPH Bayah.

“Terkait tambang batu bara bisa tanya dulu ke Asper Bayah, ” kata Aap singkat.

“Galian batu bara di lapangan sesuai dengan laporan KRPH, semua sudah di tutup dan semua galian batu bara yang berada di kawasan hutan semua ilegal, kata Asper Bayah Ateng Sutisna Via WhatsApp, Kamis (16/01/2020).

Juga disampaikan KRPH Bayah Saprudin, yang mengatakan bahwa tidak ada lagi kegiatan penambangan batu bara di area perhutani.

“Petak 40f geus di bubarken jeng ti kepolisian, kudu di cek deui, lamun rek ngecek ajak polter Beni nu apal batas kehutanan ( Petak 40f udah dibubarkan sama dari kepolisian, harus di cek lagi, kalau mau ngecek ajak Polter Beni, yang hapal batas kehutanan – red),” jelas Saprudin.

Sementara itu saat menghubungi KRPH Panjaungan Timur Endang Sujana yang juga Via whatsApp memaparkan bahwa pihaknya (rph-red) telah melakukan pembinaan dan melakukan patroli.

“Ma’af pa terkait dengan galian batu bara itu tidak ada ijinnya ( Ilegal ). Upaya penanganan yang sudah kami lakukan dengan cara penyuluhan dan mengadakan perondaan atau patroli”, ujarnya.

Saat ditanya apabila para penambang itu terus melakukan penambangan dilahan milik perhutani, apa tindakan tegas yang akan dilakukan pihak perhutani, Endang Sujana tidak memberikan jawaban.

Sedangkan dari hasil pantauan tim wartawan, hingga saat ini masih banyak ditemukan penambangan ilegal dilahan milik Perhutani.

Begitu juga dengan penambangan pasir tanpa ijin dan kegiatan PETI di Kecamatan Bayah dan Cibeber masih terus berlangsung. (red)

Laporan: Asep Dedi Mulyadi MPIBanten

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here