Mulyadi Jatuh Bangun Bisnis Konveksi

0
35

PIONLINE BREBESPerjalananya penuh liku dan terjal terus di lakoninya dengan sabar dan penuh semangat wira usaha.

Di buangnya rasa capai dan lelah demi membesarkan 10 orang anaknya hanya dari buruh jahit dia yakin Allah suatu saat akan memberi jalan hidup terbaik untuknya.

“Yakin dengan doa yang di panjatkan dan Allah pasti kabulkan asal kita bersungguh – sungguh ” Demikian Mulyadi menjelaskan dalam membuka percakapannya dengan Patriot sambil minum kopi Rabu 29/1 di rumahnya.

Tekadnya tidak pudar untuk terus melangkah visioner menjemput impiannya. Rasa jenuh Bertahun merantau di Ibukota merupakan nutrisi berharga dirinya membulatkan tekadnya untuk pulang kandang (Kampung- red) yang sempat tidak di setujui oleh istrinya. Namun semangatlah yang terus di nyalakan dan terus nyala meski berada di rumah sederhana kecil dan pengap ambisinya sudah tak bisa di tawar untuk mandiri yakni membuka Rumah Jahitan.

Pelanggannya pertama adalah tetangga dan saudaranya yang ternyata sangat pahit dalam kenyataannya membiayai ekonomi rumah tangganya.

Pelan tapi pasti, Mulyadi yang di rundung hutang pula menyusuri pintu – pintu instansi di mana ada kenalan di dalamnya.

“Saya telusuri kenalan yang perkantoran pak” Ujarnya dengan sedikit sembab wajahnya seolah sedang memutar rekaman perjalanan dirinya di ( flash back – red ).

Perjuangan yang di tuntun dengan doa di lihat dan di dengar Allah, tapak – tapaknya mulai kentara dan menjadi babak baru kehidupannya.

“Saya banyak bergaul dan masuk deretan nama tukang mabok, setiap hari suka minum – minuman keraso saat itu” paparnya  bercerita bernostalgia, matanyapun berkaca, karena hampir tidak percaya dengan hasil sekarang sedang di nikmatinya.

Melalui teman sesama pemabok garis hidupun berubah. Darinya di tawari untuk mengambil kontrak menjahit baju khusus laki – laki.

Hasil jahit yang di kirim sebagai sample mendapat gayung bersambut di terima oleh perusahan ritel ternama ternama di Indonesia. Di sini mulai terbuka peluang karena mendapatkan kontrak sebanyak 4 ribu baju per minggu, menurut pihak perusahaan hasil keuletan dan telatennya laris manis terjual.

“Khusus baju pria termasuk koko yang di buatnya” Ungkapnya, dengan wajah optimis

“Tidak usah memandang kebelakang dan jangan jadi patokan soal umur, kita terus  semangat” ungkapnya soal rahasia berbisnisnya.

Buah manisnya itu sebenarnya dari pelajaran kebangkrutan yang di alaminya.

Kini keadaan telah nyata berubah. Mobil box nya terparkir di depan rumah berlantai dua dan ruang tamu terpajang televisi layar lebar  dengan asesoris pendukungnya bertenger ( in home theatre ).

Patriot di perkenankan melihat ruang produksi konveksinya yang berukuran 25 x 50 meter dengan dukungan 40 orang karyawannya.

“Perijinan lengkap dan  saya membayar tidak kurang 50 juta untuk gaji karyawan per minggu.”

“Utamakan kwalitas dengan Cepat selesai” sambil menumpukan sejumlah hasil produknya di atas meja. Sisi lain Mulyadi menempatkan dirinya merupakan bagian dari keluarga  para karyawannya sehingga terjalin rasa kebersamaan, menurutnya bahwa dirinya tak menjadi apa kecuali ada mereka.

Saat di singgung bagaimana hubungan soal dukungan dari perbankkan,karena skema bank pemerintah telah meluncurkan program dana murah sebagai dukungan pada pengusaha.

 “Pernah mengalami kepahitan…dan hampir stress, karena top up nya tidak sesuai harapan, dana segar tersebut untuk pembelian bahan baku dan mesin” curhatnya tentang pengalamannya,dia katakan sekarang marketing Bank banyak yang menawarkan pinjamam.

Kelimpahan rizki dari Allah ternyata Mulyadi semakin  sangat perasa untuk lebih berperan pada masyarakat sekitar khususnya juga kegiatan sosial lainnya.

” Berdekat – dekatlah sama ulama dan laksanakan pesannya agar kita tenang dalam kehidupan ini dialog penutup perbincangannya “KONVEKSI MULYADI” Itu nama usaha yang di gelutinya.Dia hanya terus cepat – cepat bangkit  saat jatuh.

Dual dari lima tahun bekerja berkarya saat nya menikmati Buah usahanya.

Anak – anaknya lebih di tekankan Dan mempercayakan  pada pendidikan umum berbasis pesantren, tujuannya agar pengalaman kepahitannya tidak jadi virus bagi keturunannya.

Yakinlah sukses belum tentu didapat di waktu muda di Usia 52 tahun pun ada kesempatan yakinlah. Sosok Mulyadi yang menempati rumah berlanati dua di Desa Jagapura Kecamatan Kersana Brebes telah membuktikan bahwa Allah pasti menolongnya. (red).

Laporan: Mohammad Riyadi Biro Brebes

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here