Ada Apa Dengan Semua Ini Mari Kembali Ke Akal Sehat

0
351

Oleh. Abah Bazari Hamidy.

PIONLINE TANJUNG PRIUK – Terkadang aku bingung dan tidak paham melihat tingkah laku manusia. Yang selalu over dan sangat berlebihan dalam mengambil keputusan.

Dengan semerak dari informasi sana sini tentang wabah COVID 19. Sepertinya banyak orang yang lari dari TAKDIR, sehingga  diantara banyak orang dihantui oleh rasa cemas dan ketakutan. Yang akhirnya lupa siapa sebenarnya diri kita ini.  

WABAH adalah cobaan. bagi kita yang ber Agama Islam. Harus dihadapi kondisi seperti ini dengan pemikiran dan hati yang jernih. Kita punya Allah. Allah tidak akan berpaling terhadap hambanya yang mencintai nya. Ibadah apapun yang kita lakukan sesuai perintah Nya dan Rasulnya. Segalanya menjadi penawar bagi hamba nya yang beriman.

Apakah kita harus tidak mempercayai nya ? Putusnya mata rantai bukan nya kita membiarkan rumah Allah menjadi kosong. Sehingga tidak ada lagi solat. Solat berjamah di masjid walau hanya  Imam dan 1 makmum nilainya sama dengan kita berjamaah dengan seratus atau seribu orang, asalkan back to Masjid.

Apakah kita tidak yakin kalo Masjid Allah sendiri yang menjamin kesuciannya. Sebagai tamu Allah yang visit untuk berkomunikasi dengan Nya. Mereka itu bukan tamu yang kotor dan Najis. Sedangkan Air Udhu itu sudah dijamin Allah sebagai pelepas bakteri sekaligus Virus (segala macam kuman) sebagai anti septik yang tidak ada bandingannya. juga mengembalikan tenaga yang sudah terbuang dari dari pagi sampai zuhur dan asyar.

Bolehlah untuk sementara waktu Jamaah harus terputus dengan ustad/sang guru untuk sementara waktu. Tapi tidak harus terputus dengan hubungan solat Jumat. Yang dijamin Allah untuk membersih kan diri manusia dari  dari jumat ke jumat, sebagai penghapus dosa.

Pedih dan menangis batin saya, sudah tiga jumat mesjid-mesjid kosong . Padahal yang membuat hati ini terasa tentram selapas kembalinya dari masjid selepas solat jumat kerumah masing-masing. Masalah jabat tangan sesama jamaah itu tidak ada anjuran. Mengusap muka selapas solat itu tidak ada anjuran. Juga mengusap muka selepas DOA itu juga tidak ada anjuran. Kita salam dan tidak salaman atau kita mengusap muka selapas solat dan Doa tidak ada sangsi dosa.

Ada lagi yang memutus kan Tali Silathurrahim sesama saudara dan sahabat juga tetangga kanan kiri kita. Sampai ada yg tidak mau terima TAMU. Juga tegur sapa dengan tetangga. Malah ada tulisan yang terpampang dipintu rumahnya yang berbunyi: TIDAK TERIAMA TAMU UNTUK SEMENTARA WAKTU.

Jika saya amati kondisi seperti ini sama saja menolak datang nya MALAIKAT pembawa berkah terusir tidak jadi masuk kerumah kita. Sehingga yang masuk kedalam rumah tersebut adalah Iblis, syetan kelimpok JIN-JIN jahat yang mengusai rumah tersebut. 

Bukankah indah nya jika didepan pintu masuk rumah kita,  kita sedia tempat Air/padasan yang terbuat dari galon bekas cat atau ember atau jerigen  Yang kita bolongi lalu di isi air dan juga sabun untuk tamu yang datang kerumah kita, tidak berat dan  tidak sebera nilai nya. Dalam situasi seperti ini setiap tamu yang datang  bersilaturahmi. Kita minta untuk membasuh atau  berudhu. Sehingga kita tidak punya kehawatiran. Semua ini bisa dijadi kan contoh.

Tamu adalah pembawa Rohmat bagi setiap tuan rumah yang ikhlas menerima nya. Tamu keluar / pulang meninggalkan rumah kita membawa dosa kita dan penyakit pada diri kita. Mengapa harus kita khawatirkan dan merasa takut. Yang saya khawatirkan lagi saat ini jika ada tetangga yang meninggal,  tetangga, sahabat dan juga ada saudara sendiri tidak datang melayat. Punya kehawatiran karna VIRUS Padahal orang tersebut meninggal karena sakit yang tidak ada hubungannya dengan COVID 19.

Saya lihat sekarang ini sikap orang-orang sudah masa bodoh.  Mereka berfikir hanya memikirkan keselamatan keluarganya dari COVID 19. Bagaimana jadinya jika hal ini berkepanjangan. Ada masyarakat dianiyaya dibunuh atau kecelakaanatau sakit lainnya yang harus memfapatkan pertolongan,  sikap kita cuek dan  masa bodoh. Ya Allah apakah akibat nya nanti.

Dimana wilayah/tempat tempat kita tinggal jadi RAWAN . Karena segala aktifitas sudah lumpuh total. Tidak ada lagi polisi yang mau melayani masalah kejahatan, pengadilan pun demikian. Sehingga berubah keadaan masyarakat bukan lagi takut dengan COVID 19. Akan tetapi takut dengan manusia-manusia yang punya niat jahat.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here