RI Masih Kebanjiran Import Pakaian Bekas

0
53

Lazaros H Kanna Wartawan Ekonomi MPI Jakarta

PATRIOT INDONESIA (MPI) Pakaian  merupakan salasatu kebutuhan primer bagi setiap manusia,   sehingga kebutuhan pakaian menjadi akan terus meningkat, seiring dengan perkembangan populasi manusia. Industri pakaian jadi diIndonesia terus berkembang diikuti oleh berkembangnya perdagangan internasional, untuk produk tersebut.

Namun demikian pada beberapa dekade belakangan ini, muncullah isu perdagangan pakaian bekas seperti yang sekarang ini terjadi dipasaran bebas. Hampir semua kota diIndonesia telah diisi dengan menjamurnya pakaian bekas import yang tidak terbendung jika dilihat dari segi hukumnya aktivitas jualan pakaian bekas import.  

Perihal yang satu ini. Tentu saja bertentangan dengan peraturan perundang undangan Republik Indonesia. Secara legal, peraturan importase pakaian bekas diatur oleh Pemerintah dalam undang undang no 7 tahun 2014 pasal 47 ayat (1) dinyatakan bahwa setiap importir wajib mengimpor barang dalam keadaan baru, pada tahun 2015 kementerian perdagangan mengeluarkan peraturan no 51 / M-DAG / PER / 2015 tentang larangan import pakaian bekas.  

Dalam prakteknya undang undang dan peraturan pemerintahan ini tidak di gubris oleh para pelaku usaha Nakal, hanya label diatas kertas dianggap sebelah mata oleh para penyelundup pakaian import bekas.  Peraturan kementrian peradangan terhadap larangan import pakaian bekas di Indonesia ternyata tidak membawa pengaruh,  hal ini terbukti semakin merajalela import pakaian bekas masuk kepasaran antara lain di jakarta, bandung, dan beberapa kota besar di Indonesia.

Pasar senin merupakan pusat perdagangan pakaian bekas import bahkan penimbunannya dibeberapa lokasi daerah perkampungan senen dan sekitarnya antara lain sebuah bekas tempat ibadah (Vihara) merupakan tempat penimbunan paling aman hingga saat ini tidak tersentuh. Di jawa barat atau dikota bandung tepatnya dipasar cimol gede bage pada september 2019 kementrian perdagangan melalaui direktorat jenderal Perlindungan Konsumen dan Tata Tertib Niaga (PTKN) telah mengamankan 551 balles pakaian bekas import yang akan dijual pada konsumen.

Nilai dari pakaian bekas tersebut berkisar 4-5 miliar. Pengamanan ini dilakukan digudang apad Shafira dikomplek pasar gede bage kecamatan gede bage bandung pengamanan ini merupakan respon atas informasi masyarakat terkait maraknya perdagangan pakaian bekas yang diduga banyak mengandung bibit penyakit yang membahayakan kesehatan masyarakat kata dirjen Ptkn kementerian perdagangan Very Angijono.

Hal ini melanggar undang undang no 8 tahun 1998 tentang perlindungan konsumen dan undang undang no 7 tahun 2014 tentang perdagangan.  Pasal 8 ayat 2 undang undang perlindungan konsumen pelaku usaha dilarang memperdagangkan barang yang rusak, cacat, atau bekas, dan tercemar tanpa memberikan informasi secara lengkap atas barang tersebut.

Sedangkan undang undang perdagangan pelaku dapat dikenakan pasal 35 ayat (1) D , pasal 36 dan pasal 37 ayat (1) yang menyebutkan pemerintah menetapkan larangan perdagangan pakaian bekas import untuk kepentingan import dengan alasan melindungi kesehatan, keselamatan,  dan lingkungan hidup. Pada 11 Maret 2020 direktur jendral bea dan cukai Heru Pambudi mengatakan pihaknya berhasil mengamankan 874 ballsepers pakaian bekas yang diangkut oleh 8 truk teronton. 

Dalm 1 balleprs atau karung rata rata terdapat 500 potong baju dan celana serta 10.000 pakaian dalam. Masih kata dirjen bea cukai, delapan truk teronton itu didapati dari masyarakat lewat pelabuhan merak dengan tujuan akhir bandung dan nilai barang tersebut kurang lebih 2,6 Miliar.

Untuk mengantisipasi menjamur nya penyelundupan import pakaian bekas Kemendak, Direktorat Bea cukai Kementrian Perindustrian dan instansi Hukum terkait saling kordinasi dan kerja sama dalam memberantas mafia mafia import pakaian bekas.(Abah/red)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here