Sewa Menyewa Kios/Los Pasar Bayah Jadi Ajang Bisnis Diatas Lahan Milik Pemda Lebak

0
32

PATRIOT INDONESIA (MPI) LEBAK – Para pedagang pasar Bayah  banyak yang mengeluhkan dengan pungutan-pungutan yang harus mereka bayar, yang diduga tidak memiliki payung hukum yang jelas atau pembayaran retribusi resmi sebagai kewajiban pembayaran PAD kepada pemerintah Kabupaten Lebak.

Para pedagang harian pasar Bayah menyayangkan terhadap pembayaran tidak jelas yang harus mereka keluarkan tersebut, yang di duga hanya menjadi kepentingan perorangan.

Para pedagang pasar Bayah berharap, pihak pengelola pasar atau Disperindag Lebak, dapat membenahi permasalahan yang ada di pasar Bayah, baik dari pasilitas atau pungutan-pungutan yang tidak resmi, seperti pungutan sewa lahan tanah kepada Pemda yang dipinta setiap bulan tanpa ada bukti yang sah secara tertulis (tidak ada bukti pembayaran diatas Kwitansi-red), sewa kepada pemilik bangunan kios milik perorangan (masuk kantong pribadi, juga tidak ada Kwitansi-red), serta pungutan retribusi lainnya.

Praktek sewa menyewa Kios atau los, baik milik Pemda atau perongan yang telah berlangsung bertahun-tahun ini jelas menambah beban biaya yang harus dikeluarkan para pedagang Bayah setiap bulannya. Sementara oknum para pemilik Los / Kios dengan mudah mendapat keuntungan dari uang sewaan, padahal Los yang dibangun tersebut dilahan tanah milik pemerintah / pasar, atau Kios yang dibangun pemerintah dan disewakan lagi kepada pedagang yang lain.

Menurut keterangan para pedagang  harian pasar Bayah, kepada wartawan mengatakan, selain membayar retribusi harian sebesar Rp.5000,- / Hari, mereka juga harus membayar sewa lahan tanah dan bangunan los, baik Kios milik Pemda atau bangun Los milik perorangan, jadi harus membayar ke dua pihak, yaitu ke pemda dan ke perorangan.

Seperti yang diungkapkan RS saat ditemui di Los tempatnya berjualan, mengatakan banyak pedagan yang mengeluhkan dengan banyaknya pungutan yang tidak jelas, yang menurutnya, itu bukan dari aturan pemerintah.

“kami para pedagang harian, membayar retribusi pasar yang memakai karcis Pemda Rp. 2.000,- dan yang tidak mengunakan karcis Rp. 3.000,-. Selain itu, saya juga harus membayar sewa lahan tanah ke pihak pasar Rp. 40.000,-/bulan, serta harus bayar sewa Los Rp. 7.000.000,- per tahun,” terang SR.

“Saya berharap pihak pengurus pasar atau Disperindag Lebak dapat membenahi permasalahan ini. Karena apabila terus dibiarkan, akan terus menjadi beban bagi para pedagang seperti saya ini. Kami yang setiap hari harus banting tulang berdagang, tapi setiap bulan dan tahun harus membayar sewa-sewa yang tidak jelas aturan dan payung hukumnya,” tambahnya.

Senada yang disampaikan YN. Dia mengaku los yang dia gunakan dari menyewa ke si pemilik sebesar Rp. 250.000,-/bulan.

“saya nyewa pak, bayar Rp. 250.000,- sebulan. Pemiliknya yang jualan dipasar sebelah dalam, ” jelasnya.

Saat wartawan minta keterangan kepada Kabid Pengelolaan Pasar Disperindag Lebak Dedi Setiawan yang akrab di panggil Ocod, di Kantor pasar Bayah, Jum’at (17/7 09:22) yang lalu, terkait adanya sewa menyewa Los dan Kios yang telah berlangsung bertahun-tahun, yang dikeluhkan dan membebani para pedagang harian, yang mana mereka harus bayar sewa lahan ke Pemda dan sewa kepada atas nama pemilik bangunan.

Disinyalir praktek sewa menyewa itu menjadi bisnis dan masuk kantong pribadi, padahal bangunan itu diatas lahan milik Pemda, atau bangunan milik Pemda yang disewakan lagi kepada pedagan pihak ke-dua. Seharusnya secara aturan atas nama pemilik guna pakai itulah yang mengisi Kios/Los, dan apabila terjadi oper alih hak guna pakai, harus melalui cara yang resmi yaitu melalui pengurus pasar/Dinas.

Ocod mengatakan bahwa dia (Dedi Setiawan-red) akan melakukan pengecekan dan akan melakukan penertiban pasar Bayah baik secara adminiatrasi juga terhadap Kios, Los dan lapak yang ada di pasar Bayah.

“Secepatnya saya akan melakukan pengecekan mengenai retribusi  dan sewa menyewa yang di ambil dari para pedagang itu, dan saya akan melakukan penataan los-los yang ada,  agar pasar bayah Bayah ini bisa lebih tertata, baik dari sisi managemen dan tata letak kios atau Los para pedagang bisa lebih rapi dan bersih,” katanya.

Laporan: Asep Dedi Mulyadi Jurnalis MPI

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here