LA NINA CUACA EXTREM DI LANGIT INDONESIA

0
98
Bekasi-Poinline

Penjelasan terkait cuaca extrem di Indonesia Badan Meterologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menjelaskan La Nina bisa mengakibatkan cuaca extrem berupa hujan deras yang disertai angin kencang dan petir dalam periode sepekan ke depan.

BMKG memperingatkan curah hujan tinggi akibat fenomena La Nina pada Desember 2020 hingga Februari 2021. Fenomena La Nina ini juga terjadi bersamaan dengan gelombang MJO (Madden Julian Oscillation).

BMKG mengimbau masyarakat agar tetap waspada dan berhati-hati terhadap dampak yang dapat ditimbulkan kondisi cuaca ekstrem seperti banjir, tanah longsor, banjir bandang, genangan, angin kencang, pohon tumbang.

Dampak La Nina terhadap curah hujan di Indonesia tidak sama, baik secara spasial maupun temporal, tergantung pada musim atau bulan, wilayah, dan kekuatan La Nina sendiri.

“Catatan historis menunjukkan bahwa La Nina dapat menyebabkan terjadinya peningkatan akumulasi jumlah curah hujan bulanan di Indonesia hingga 40 persen di atas normalnya. Namun demikian dampak La Nina tidak seragam di seluruh Indonesia,” Jelas Deputi Bidang Klimatologi BMKG Herizal dalam keterangan resmi.

Suhu Muka Laut (SML) di Samudera Pasifik bagian tengah mengalami pendinginan di bawah kondisi normalnya. Pendinginan SML ini mengurangi potensi pertumbuhan awan di Samudera Pasifik tengah dan meningkatkan curah hujan di wilayah Indonesia secara umum.

BMKG menjelaskan fenomena La Nina di Samudera Pasifik berintensitas sedang. Pemantauan BMKG terhadap indikator laut dan atmosfer menunjukkan suhu permukaan laut mendingin -0.5 celsius hingga -1.5 celsius selama 7 dasarian terakhir (70 hari).

Hasil analisis kondisi dinamika atmosfer tekini menunjukkan keberadaan aktivitas MJO di atas wilayah Indonesia. Aktivitas MJO membentuk kluster atau kumpulan awan berpotensi hujan.

Aktivitas La Nina dan MJO pada saat yang bersamaan ini dapat berkontribusi signifikan terhadap pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia. MJO di Indonesia terjadi akibat interaksi antara laut dan atmosfer di Samudra Pasifik dan Samudra Hindia yang mengapit Indonesia.

MJO berdampak pada peningkatan curah hujan disertai angin kencang dan petir. Ujar Herizal. fenomena MJO sendiri merupakan fenomena yang serupa dengan fenomena gelombang ekuator, namun dengan pergerakan ke arah Timur pada kisaran periode selama 22 hari di Indonesia.

BMKG dan pusat layanan iklim lainnya seperti NOAA (Amerika Serikat), BoM (Australia), JMA (Jepang) memperkirakan La Nina dapat berkembang terus hingga mencapai intensitas La Nina Moderate pada akhir tahun 2020, diperkirakan akan mulai meluruh pada Januari-Februari dan berakhir di sekitar Maret-April 2021,” ujar Herizal.

Untuk periode 18 – 24 Oktober 2020 dampak MJO berpotensi terjadi di wilayah berikut:
– Aceh
– Sumatera Utara
– Sumatera Barat
– Riau
– Jambi
– Bengkulu
– Sumatera Selatan
– Kep. Bangka Belitung
– Lampung
Banten
– DKI Jakarta
– Jawa Barat
– Jawa Tengah
– DI Yogyakarta
– Jawa Timur
– Bali
– Nusa Tenggara Barat
– Kalimantan Barat
– Kalimantan Utara
– Kalimantan Timur
– Kalimantan Tengah
– Kalimantan Selatan
– Sulawesi Utara
– Sulawesi Barat
– Sulawesi Tengah
– Sulawesi Selatan
– Maluku Utara
– Papua Barat
– Papua

Sumber : BMKG
Laporan : Shndy.M MPI Bekasi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here