DESTINASI ” NGASA ” BUDAYA DAN PELESTARIAN HUTAN

0
20

Brebes-Pionline
Bagi yang ingin menggali keragaman destinasi wisata di Brebes sekali – kali datang ke Desa Ciseureuh, tepatnya di Dukuh Jalawastu, yang terpeta di wilayah Kecamatan Ketanggungan.

Desa ini berada di radius 25 kilo meter dari Ibu Kota Kecamatan, menembus, membelah pematang dan perbukitan yang indah dan menantang serta lahan pertanian terhampar luas bak perawan pesolek cantik dan mempesona menggoda, demikianlah perjuangan untuk mencapai
titik sentral lokasi asset budaya dan ritual serta hutan yang di laksanakan turun temurun, dan bagi anak muda yang suka foto- foto ( selfi,red) sebagai dokumen pasti tak akan rugi, sekaligus membayar rasa capainya.

Hari ini, Selasa 30/3/2021 perawatan budaya adiluhung yang bersumber pada pelestarian alam dan integrasi budaya masyarakatnya, pagi-pagi warga Dukuh Jalawastu sudah sibuk menyiapkan berbagai alat dan ugarampe ritual Desa Ciseureuh, manyambut para tamu dan pengunjung, karena milad budaya “NGASA ” 2021 di gelar seperti biasa tiap tahun di adakannya, meski tetap dengan menjalankan prokes Covid 19.

Darsono sebagai pemangku agung adat, yang juga Kepala Desa, dalam sambutan pembukanya menyampaikan bahwa tradisi turun temurun ini terus di rawat dengan baik dan berkelanjutan.
” Kalo bukan kita yang merawat siapa lagi ” ujarnya di hadapan pejabat daerah yang kali ini Narjo,SH,.M.H wakil bupati Brebes turut hadir berada di tengah- tengah masyarakat dan pengunjung merasa bersyukur atas keberagaman budaya dan wisata di Kabupaten Brebes salah satunya di desa tersebut.

” Tak ada kata yang indah, kecuali rasa syukur atas semua yang di berikan Allah Subhana wa taala ” ujarnya diawal sambutannya.

Lantas beliau melanjutkan bahwa tradisi NGASA yang kalo di terjemahkan bebas memiliki arti Ngarasa atau rumangsa ( merasa,red) dengan di beri hidup dan berkehidupan.

” Adat budaya ini ” tandasnya,yang di maksud proses budaya ritual -ngasa-
” Harus terus di pupuk dan di rawat dengan baik,Pemerintah Daerah tidak ada alasan untuk tidak hadir untuk turut aktif menjaga ” paparnya yang di sambut applaus meriah para hadirin.

Lebih lanjut, beliau juga menekankan bahwa merawat budaya atau tradisi yang ada itu tidak gampang, setidaknya harus di tumbuh kembangkan -RASA- memiliki sehingga menjadi satu kesatuan utuh dari bingkai Kebersamaan, Kekeluargaan dan Persaudaraan.

” Kita jaga bersama ada budaya ini, sehingga tidak terkontaminasi oleh budaya dari luar yang bisa merusak jati dirinya ” sambungnya penuh semangat ulas politikus yang bernaung di Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI.P -red ) yang di percaya dua periode berjalan.
Sebelumnya masuk ke area, wakil bupati mendapat sambutan cipratan Air kasucen ( kesucian,red ) oleh kokolot ( sesepuh ) panguncen adat.

Acara ” NGASA ” di mulai sejak pukul 06.00 wib sampai 09.30 wib, di mana masyarakat sudah berbondong- bondong membawa hasil tetani berupa sayur mayur, padi dan jagung yang intinya hasil pertanian serta di suguhi nasi jagung
Hadir di kesempatan ritual budaya tersebut, terlihat Kapolsek,
AKP Suroto,S.H,Camat Ketanggungan,Urip Rosidik,S.IP, dan ada pula Staff ahli Bupati,Laode Vindar Aries Nugroho yang pernah menjabat Camat Ketanggungan sedangkan Danramil tidak hadir tapi di wakili anggotanya Serka Darso serta pejabat Dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata.

selain cipratan air suci,para pejabat di sambut pula dengan tarian tradisional Dengdong dan perang centong yang membuat pengunjung antusias di tambah lagi di kesempatan itu Bupati sebagai penutupnya menyerahkan pesan dari Presiden Jokowi yakni Sertifikat Hutan Adat (SHA) pada pemangku adat seluas 64 hektar untuk dirawat dan di jaga keberadaan hutan yang di bersama tradisi di dalamnya agar lestari berkesinambungan.

Destinasi perpaduan tradisional dari nilai- nilai filosofi yang kental “NGASA ” dengan penguatan lestari ya hutan lindung maka terwujudlah suatu peran budaya sekaligus taman wisata alam teduh dengan rimbunnya pepohonan.

Jagalah hutan dengan baik dan pergunakanlah dengan hal yang baik, karena alam hakikatnya menjadi keseimbangan bumi, maka jangan salahkan hutan jika sudah marah, akibat yang timbul adalah musibah berakibat fatal akan terjadi Longsor dan banjir melanda, ulah siapa…?
ya..ulah manusia yang serakah.

Manifestasi keseimbangan manusia harus “NGASA” agar sang pemilik alam tidak murka..sebagai wujud syukur atas nikmatnya

Laporan : Mohammad Riyadi MPI Brebes.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here