SI INUL DAN SI GELAP, MENJADI PILIHAN PELANGGAN

0
18
Brebes-Pionline
Brebes,22/6-2021
Kabupaten Brebes yang berbatasan persis dengan Jawa Barat, belum terbongkar potensinya secara maksimal.
Kita bisa lihat ada perkebunan dan pertanian yang hampir di tinggalkan oleh anak muda.
Kebiasaan merantau membuat mereka buta dengan sisi bisnis yang ada di kotanya.
Disamping itu, keengganan terjun menjadi petani hampir  70% selebihnya 10% lebih suka menjadi buruh pabrik yang mulai tumbuh di sepanjang jalur Pantura dan selatan, terlebih Pemerintah daerah mencanangkan dengan Kawasan Industri Brebes ( KIB,red) yang tanahnya di beli oleh perusahaan dan pemilikannya oleh asing dengan cara di beli tunai.
Lahan tepi pantai dan pegunungan telah hampir di kuasainya.
Mungkin dengan jargon untuk meningkatkan tempat para pencari kerja lulusan dari Sekolah Menengah Kejuruan ( SMK ) atau Sekolah Menengah atas ( SMA ) yang sengaja di produksi untuk menjadi pekerja, Pemerintah Daerah seperti telah abai atas Undang- Undang Pokok Agraria No.1960( UUPA ) di mana bahwa perusahaan asing hanya boleh memiliki Hak Guna Usaha, Guna Bangunan dan Guna Pakai.
Kejadian ini sungguh miris melihatnya.
Selain itu, para pekerja tak menghasilkan transportasi alih tekhonology apapun selain upah buruh/kerja dengan standar Upah Minimum Regional ( UMR ) yang hanya sebesar 1,5 juta.
Gejala hilangnya kesadaran kembali bertani di respon oleh lembaga UMKM Brebes, dengan menggiatkan lahan – lahan pertanian bukan hanya peruntukan Padi dan Bawang Merah.
Azmi, koordinator dan peduli UMKM terus berkampanye agar masyarakat bisa kembali back Nature dalam pertanian.
Wati Andriyani, mencoba bertaruh dengan menanam semangka.
 “Semangka Inul dan Gelap ” ujarnya di area perkebunan seluas 2 hektar yang di kelolanya.
Tokoh muda asal Desa Larangan Kecamatan Kabupaten Brebes ini berani bertaruh bahwa apa yang di kerjakan menghasilkan uang.
” Kami jual Rp.6.000 per kilogram pada bandar ” lanjutnya, yang di bawanya ke kota seperti Bandung, Jakarta, Surabaya dan kota lainnya.
” Dagingnya merah dan manis semanis penghasilannya ” sambungnya dengan senyum bahagia, yang di jelaskan nya bahwa harga eceran semangka sekitar Rp.8.000 sampai Rp.10.000 / kg.
Penggerak UMKM tidak hanya bergerak di area Pantura namun di wilayah selatan pun di jajaginya. Seperti Sutanto 45, mengajak banyak petani khususnya di Kecamatan Sirampog memulai menanam kopi Arabika dan Robusta, sebagai terobosan baru dari sayur mayur.
“Ada 50 hektar yang sudah kami tanam dan akan terus bertambah ” paparnya di suatu kesempatan komitmen kerjasama dengan Koperasi Pedagang Pasar ” SEJAHTERA” Sitanggal Kecamatan Larangan Kabupaten Brebes. Brebes yang berkantor di Jalan Ahmad Yani No.33.
Eko Yulianto, sebagai Ketua Koperasi menyambut baik adanya kerjasama ini, untuk sayur mayur dan komoditi lsinya dari wilayah selatan.
” Kami sangat bersyukur terjadinya kerjasama ini, karena memungkinkan perluasan usaha real dan bukan hanya bergelut pada simpan pinjam ” tukasnya di sela- sela penanda tanganan nota perjanjian kerjasama.
Lebih lanjut, bahwa untuk  kelanjutannya Koperasi akan turut membuka lahan baru di sana.
” Komoditi kopi bersekala internasional, menjadi produk eksport ” sambungnya, dan berharap pemerintah bisa membatunya dengan memberi pinjaman lunak untuk Koperasi dan UMKM.
Sinergitas antara Koperasi dan UMKM seharusnya menjadi Project prioritas agar kedepan bisa memancing para muda milineal tidak terjebak pada pola kerja saja tapi ada keberanian untuk membangun bisnis pertanian berskala besar.
Untuk itu pula Pemerintah harus memberi dukungan penuh melalui Dinas Koperasi dan UMKM yang ada, serta membuka kran komunikasi dengan pengusaha yang ada di Kabupaten Brebes.
Pangsa pasar komoditas pertania dan perkebunan sangat menjanjikan asalkan ada pembinaan yang terus dan berkelanjutan.
” Sistem kemitraan menjadi pilar keberhasilan ” urai Sutanto menutup pembicaraan.
Ya…Brebes tidak bisa di abaikan begitu saja, Pemerintah pusat dan daerah harus membuka mata lebar- lebar, bagaimana Kabupaten Brebes bukan hanya terkenal dengan telur asin dan bawang merah saja, akan tetapi potensi skala besar bisnis pertanian dan perkebunan..setidaknya harus mendapatkan plot prioritas, agar MILENIAL tidak terjebak menjadi buruh tapi menjadi pengusaha.
Laporan MPI Brebes : Mohammad Riyadi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here