SEJARAH, PEMENUHAN KEBUTUHAN ATAU HANYA SEKEDAR IDENTITAS

0
55

MPI-Nasional
Suatu bangsa sebagai kolektivitas seperti halnya individu memiliki kepribadian yang terdiri
atas serumpun ciri-ciri menjadi suatu watak. Kepribadian nasional lazimnya bersumber pada
pengalaman bersama bangsa itu atau sejarahnya. Identitas seseorang pribadi dikembalikan
kepada riwayatnya, maka identitas suatu bangsa berakar pada sejarah bangsa itu.
Sejarah merupakan cerita tentang pengalaman kolektif suatu komunitas atau nation di masa
lampau. Pada pribadi, pengalaman membentuk kepribadian seseorang dan sekaligus
menentukan identitasnya. Proses serupa terjadi pada kolektivitas, yakni pengalaman
kolektifnya atau sejarahnyalah yang membentuk kepribadian nasional dan sekaligus identitas
nasionalnya. Bangsa yang tidak mengenal sejarahnya dapat diibaratkan seorang individu yang
telah kehilangan memorinya, ialah orang yang pikun atau sakit jiwa, maka dia kehilangan
kepribadian atau identitasnya.
Berdasarkan pernyataan di atas, dapat diambil beberapa butir kesimpulan antara lain:
1.
1. untuk mengenal identitas bangsa diperlukan pengetahuan sejarah pada
umumnya, dan sejarah nasional khususnya. Sejarah nasional mencakup secara
komprehensif segala aspek kehidupan bangsa, yang terwujud sebagai tindakan,
perilaku, prestasi hasil usaha atau kerjanya mempertahankan kebebasan atau
kedaulatannya, meningkatkan taraf hidupnya, menyelenggarakan kegiatan
ekonomi, sosial, politik, religius, lagi pula menghayati kebudayaan politik
beserta ideologi nasionalnya, kelangsungan masyarakat dan kulturnya
2. sejarah nasional mencakup segala lapisan sosial beserta bidang kepentingannya,
subkulturnya. Sejarah nasional mengungkapkan perkembangan multietnisnya,
sistem hukum adatnya, bahasa, sistem kekerabatan, kepercayaan, dan
sebagainya.
Apabila suatu kepribadian turut membentuk identitas seorang individu atau suatu komunitas,
kiranya tidak sulit dipahami bahwa kepribadian berakar pada sejarah pertumbuhannya. Di sini,
kesadaran sejarah amat esensial bagi pembentukan kepribadian. Analog dengan sosiogenesis
individu, kepribadian bangsa juga secara inhern memuat kesadaran sejarah itu. Implikasi hal
tersebut di atas bagi national building ialah tak lain bahwa sejarah dan pendidikan memiliki
hubungan yang erat dalam proses pembentukan kesadaran sejarah. Dalam rangka nation
building pembentukan solidaritas, inspirasi dan aspirasi mengambil peranan yang penting, di
satu pihak untuk system-maintenance negara nasion, dan dipihak lain memperkuat orientasi
atau tujuan negara tersebut. Tanpa kesdaran sejarah, kedua fungsi tersebut sulit kiranya untuk
dipacu, dengan perkataan lain semangat nasionalisme tidak dapat ditumbuhkan tanpa
kesadaran sejarah.
Kesadaran sejarah pada manusia sangat penting artinya bagi pembinaan budaya bangsa.
Kesadaran sejarah dalam konteks ini bukan hanya sekedar memperluas pengetahuan,
melainkan harus diarahkan pula kepada kesadaran penghayatan nilai-nilai budaya yang relevan
dengan usaha pengembangan kebudayaan itu sendiri. Kesadaran sejarah dalam konteks
pembinaan budaya bangsa dalam pembangkitan kesadaran bahwa bangsa itu merupakan suatu
kesatuan sosial yang terwujud melalui suatu proses sejarah, yang akhirnya mempersatukan
sejumlah nation kecil dalam suatu nation besar yaitu bangsa. Dengan demikian indikatorindikator kesadaran sejarah tersebut dapat dirumuskan mencakup:

o menghayati makna dan hakekat sejarah bagi masa kini dan masa yang akan
datang
o mengenal diri sendiri dan bangsanya
o membudayakan sejarah bagi pembinaan budaya bangsa dan
o menjaga peninggalan sejarah bangsa
BAGAIMANA DENGAN SEJARAH BEKASI ?

Menurut Endra Kusnawan Penulis buku SEJARAH BEKASI Sejak Peradaban Buni
Ampe Wayah Gini adalah bermula dari jarangnya, atau bisa dikatakan tidak ada, buku sejarah
tentang Bekasi yang bisa diperoleh secara bebas dimasyarakat umum. Yang ada hanya buku
buku sejarah Bekasi yang dicetak terbatas dan untuk kalangan dan kepentingan tertentu.
Padahal masyarakat Bekasi secara umum, atau akademisi, banyak yang ingin mengetahui
sejarah Bekasi melalui buku yang mereka bisa miliki. Mereka ingin tahu Bekasi jaman dahulu
itu seperti apa kisahnya. Sehingga wajar saja, jangankan para pendatang, orang asli Bekasi saja
tidak mengetahui tentang sejarah daerah dimana dia, orang tuanya, atau engkong-engkongnya
dilahirkan dan dibesarkan.
Apabila kita perhatikan berbagai tanggapan masyarakat mengenai bidang sejarah dan
pengajarannya, terutama bagaimana pengajaran itu diberikan di sekolah-sekolah, dan yang
disajikan di sini, maka. Kesimpulannya tidak bisa lain, sebagai warga Bekasi kita memang
perlu sekali menangani pengajaran sejarah, dan khususnya sejarah bangsa, secara lebih
memadai dan sungguh-sungguh yang terkait erat dengan kesadaran, penelitian, dan penjernihan
sejarah. Dalam hal ini Pemerintah Daerah, harus perlu mulai mengadakan usaha cukup besar
untuk menanggulangi masalah pengajaran sejarah yang kita rasakan kurang memuaskan itu.
Namun, untuk mengingatkan dan menggarisbawahi bahwa masalah sejarah
sebenarnya lebih mendalam dan lebih rumit daripada yang sepintas tampak dalam
pengajaran sejarah di Indonesia.
Hal itu memang disebabkan oleh sifat sejarah itu sendiri. Dalam hal itu sejarah tidak berbeda
nasib dengan seluruh kelompok ilmu yang kini dikenal sebagai ilmu-ilmu sosial budaya.
Kesulitan sudah akan mulai, apabila kita diminta memberikan definisi yang tangguh mengenai
sejarah. Sebagaimana diketahui, kita langsung memasuki masalah dalam filsafatnya dan
akhirnya memilih berbicara tentang hasil yang tampak, yaitu penulisannya.
Yang diperlukan di Indonesia sekarang ini ialah penyuluhan ke dua arah, pertama-tama ke
dalam guna para sejarawan sendiri, dan kedua ke luar untuk masyarakat luas. Di satu sisi,
penyuluhan diperlukan guna memantapkan pengertian mengenai sejarah sebagai ilmu seperti
yang kini berlaku. Sebagai ilmu, dengan sendirinya materi yang dihadapi perlu dikenakan
penelitian tanpa hentinya, sedangkan sebagaimana dalam semua jenis ilmu, tergantung dari
penemuan-penemuan sebagaimana pendapat mengenai berbagai segi materi ilmu bersangkutan
berkembang.
Dengan perkataan lain, sejarah mesti dipahami sebagai ilmu yang berkembang dan dapat
mengalami perubahan. Pengertian itu dengan sendirinya akan menggairahkan penelitian lebih
lanjut dan keinginan mencapai kemajuan di dalam ilmu dan lewat ilmu. Akibatnya dalam
jangka panjang, di samping kesadaran sejarah juga kesadaran ilmiah bertambah. Kedua hal itu
perlu berjalan berdampingan guna meningkatkan mutu para sejarawan dan ilmu sejarah di
Indonesia.
Kebudayaan-kebudayaan Indonesia, atau yang dalam penjelasan pasal 32 UUD 1945 disebut
sebagai kebudayaan daerah, pada hakikatnya dapat dikelompokkan ke dalam budaya
postfigurative. Orang-orang tua masih sangat membanggakan kebudayaan suku bangsa atau
daerah asal mereka sebagai suatu sistem budaya yang terbaik dan tak mungkin berubah oleh
perkembangan zaman. Kalaupun kini harus menghadapi kenyataan, orang-orang tua itu belum
dapat melupakan impian masa jaya kebudayaan mereka di masa lampau. Tidaklah
mengherankan kalau usaha pemerintah untuk menggali, mengungkapkan, dan menawarkan
berbagai pilihan budaya daerah dalam rangka memperkembangkan kebudayaan nasional
Indonesia, mendapat sambutan yang berlebihan dari generasi tua pendukung kebudayaankebudayaan Indonesia termaksud.
Ciri-ciri masyarakat yang berbudaya tipe postfigurative adalah:
1.
1. Keyakinan orangtua bahwa cara hidup mereka tidak berubah dan bersifat kekal.
“Tak lapuk oleh hujan dan tak lekang oleh panas”
2. Sangat kuat terkait pada lingkungan pendukungnya berasal, dibesarkan, dan
dibiasakan secara aktif
3. Kelangsungan budaya itu sangat tergantuhg pada kehadiran sekurangkurangnya tiga generasi pendukungnya sehingga pengetahuan budaya dapat
ditanamkan secara langsung melalui praktek kehidupan sehari-hari. Kakek dan
nenek merupakan sumber kebenaran bagi bapak dan ibu yang akan
menyampaikan pengetahuan budaya mereka kepada anak-anak mereka, Di lain
pihak anak-anak akan berkiblat kepada kakek dan nenek dalam membina
kepribadiannya dan belajar hidup langsung dari orangtua mereka
Keterlibatan penduduk Indonesia dalam pergaulan antar sukubangsa di kota-kota besar
menimbulkan berbagai kesulitan yang tidak disadari oleh karena kurangnya pengetahuan
budaya sebagai pedoman bagi sikap dan polah tingkah laku di luar lingkungan masyarakat
sukubangsa. Demikian pula penghayatan kebudayaan sukubangsa di antara generasi juga
dirasa sangat lemah, antara lain juga karena kurang lengkapnya komponen pendukung
kebudayaan tipe postfigurative. Pola penetap neolokal serta perpindahan penduduk ke kotakota besar telah mengembangkan pola pemukiman dan perumahan yang menampung keluarga
batih saja dan memutuskan hubungan kerabat tiga generasi yang diperlukan dalam pembinaan
budaya postfigurative. Anak-anak kehilangan pembanding dan sumber kebijaksanaan budaya
untuk menkaji kebenaran informasi budaya yang mereka peroleh dari orangtua mereka, karena
ketidakhadiran kakek dan nenek dalam keluarga sebagai panutan. Akibatnya dapat kita rasakan
dan dengarkan sebagaimana tersimpul dalam keluhan sementara tua-tua adat yang menyatakan
kekhawatiran mereka tentang lemahnya kesadaran berkebudayaan di kalangan generasi muda.
Sesungguhnya di samping gejala kebudayaan-kebudayaan postfigurative dengan segala
kendala dan pendorongnya, di Indonesia kini sedang berkembang kebudayaan nasional yang
menunjukkan ciri-ciri cofigurative. Budaya cofigurative, merupakan kebudayaan yang berlaku
sebagai pedoman hidup masa kini dan harapan di masa mendatang. Bagi anggota masyarakat,
kebudayaan mereka di masa mendatang adalah model tindakan tingkah-laku yang berlaku pada
masa kini.
Oleh karena itu budaya cofigurative dapat dianggap sebagai awal kehancuran budaya
postfigurative.
Biasanya budaya cofigurative itu berkembang karena:
1.
1. Bencana alam yang melenyapkan orang-orang tua sebagai pimpinan yang
tangguh
2. Perkembangan teknologi tinggi yang tidak dikuasai oleh generasi tua
3. Perpindahan penduduk ke lain tempat yang mengakibatkan orangtua dianggap
pendatang baru atau orang asing dalam masyarakat setempat
4. Kekalahan perang dan tekanan untuk mengambil alih bahasa dan kebudayaan
pemenang
5. Perubahan penghayatan agama ketika orangtua memaksa anak-anaknya
menganut agama baru yang tidak pernah mereka alami semasa muda
6. Tindakan berencana sebagai hasil atau merupakan revolusi yang ingin
memperkenalkan gaya hidup baru kepada generasi
Kesadaran sejarah merupakan sebuah sikap yang sadar terhadap waktu dan perubahan.
Kesadaran sejarah lahir berawal dari kesadaran terhadap eksistensi diri, lalu berkembang
menjadi kesadaran kolektif yang meliputi masyarakat, bangsa, dan negara. Kesadaran sejarah
berjalan beriringan dengan pertumbuhan wawasan sejarah, baik pada masyarakat tradisional
maupun masyarakat modern. Kesadaran sejarah mengindikasikan adanya kesadaran terhadap
konsep waktu yang tidak dapat dipisahkan, yakni masa lalu, masa kini, dan masa depan. Selain
itu, kesadaran sejarah merupakan bagian tak terpisahkan dari ilmu sejarah, terutama dalam
konteks sejarah di tengah masyarakat yang mengandung ‘kebenaran’ untuk menjadi pedoman
sikap dan berperilaku.
Kesadaran sejarah yang merupakan kesadaran dalam aspek afektif tidak terlepas dari aspek
kognitif yang mengandalkan logika. Fakta-fakta sejarah menjadi penting di dalam kesadaran
sejarah, namun kesadaran sejarah dapat melahirkan kearifan atau kebijaksanaan dalam
menapaki masa kini dan menyongsong masa depan. Berdasarkan masa lalu, kesadaran sejarah
mendorong masyarakat untuk tidak melupakan identitasnya, yang dalam hal ini sangat berguna
dalam rangka pembangunan bangsa. Solidaritas nasional, tanggung jawab sosial dan moral,
serta kebudayaan bangsa menjadi berkembang akibat kesadaran sejarah. Kemajuan peradaban
bangsa tidak terlepas dari kesadaran sejarah masyarakatnya. Dalam konteks kekinian,
kesadaran sejarah tetap memiliki relevansi untuk menghadapi kemajuan teknologi sekaligus
fenomena yang dinilai mengancam integrasi bangsa, misal dalam derasnya arus informasi di
era pasca-kebenaran saat ini.
Dalam konteks kekinian, generasi milenial yang terutama ‘melek teknologi’ dapat menjadi
garda terdepan dalam membangun kesadaran sejarah di tengah masyarakat. Dengan demikian,
pemikiran kritis sekaligus rasa kebangsaan yang mempersatukan (integratif), sebagai bagian
tak terpisahkan dari kesadaran sejarah, dapat terus tumbuh dan berkembang, menjadi semakin
nyata, dan sejarah dapat dirasakan menjadi milik semua.
Mari kenali sejarah
Mari adaptasi sejarah sebagai bagian dari budaya
Mari menjadi panutan sejarah
Kabupaten Bekasi jangan sampai menjadi generasi gagal paham, bahkan menjadi generasi lupa
sejarah pada pemimpin terdahulunya.
Diambil dari berbagai sumber.
bram ananthakuanantha
Ketua Sarana Indonesia Akar Peduli (SIAP)
Ketua Indonesia Pintar Dalam Edukasi (INSPIRASI) Redaktur Senior Media Patriot Indonesia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here