KH Noer Ali Pahlawan Nasional dari Kota Patriot

0
50
MPI Bekasi.
.Bekasi adalah kota Patriot , tanahnya para pejuang tempat terjadinya pertempuran dalam mempertahankan kemerdekaan  Republik Indonesia
Bekasi di sebut sebagai kota Patriot, karena tidak semua daerah di Indonesia sebagai tempat perang, area bertempur jadi wajar Bekasi di sebut kota Patriot  kotanya para pejuang, banyak pertempuran kecil dengan cara gerilya , bahwa para pejuang memiliki semangat tempur yang sangat bagus sangat lihai mengunakan senjata api.
Ketua DPR/MPR periode 1987-1992 Kharis Suhut selaku pelaku Sejarah yang pernah bertempur di Bekasi, menurutnya perang-perang yang terjadi di front Timur Jakarta memang tidak spektakuler seperti daerah lain, akan tetapi perang yang terjadi lebih cenderung kecil-kecil dan terus menerus tanpa kesudahan, strategi perang yang di gunakan adalah gerilya.
Di Bekasi kelompok pejuang yang bertempur tidak hanya satu atau dua saja, banyak namun secara umum terdapat dua kelompok besar pejuang , pihak BKR/TKR/TNI yang merupakan dari unsur pemerintah.  dan Laskar dari unsur Masyarakat , sedangkan dari Laskar terdapat barisan Banteng Republik indonesia ( BBRI ) Barisan Rakyat ( BARA ) Laskar Rakyat Jakarta Raya ( LRJR ) dan Laskar Angkatan Komunis Muda
Dalam surat resmi Konsulat Jendral USA di Singaupra, Paul R. Josselyn pada 24 juli 1947 . dia menceritakaan tentang keadaan umum di Indonesia saat itu , dalam catatannya sebanyak empat lembar tersebut , setidaknya ada 10 area perang yang sedang berkecamuk  , salah satunya  Bekasi.
KH Noer Ali sang singa Karawang-Bekasi yang memimpin perang Perlawanan melawan Belanda , pria kelahiran Bekasi 15 juli 1914 itu termasuk pahlawan Nasional. Pada zaman pendudukan jepang , semangat Noer Ali tidak Luntur, jepang awalnya datang dengan klaim sebagai ” saudara Tua” bangsa indonesia. Namun toh kekejamannya tidak jauh beda dengan Belanda, setelah kian terdesak di perang Asia Timur Raya Jepang mulai mencari Simpati rakyat Indonesia , misalnya dengan membentuk laskar-laskar dan kesatuan pembela Tanah Air ( PETA )
Menurut Noer Ali inilah kesempatan bagi anak-anak muda Indonesia memperoleh Ilmu militer modern, dengan begitu mereka akan siap bilamana Indonesia memerlukan terutama menyonsong kemerdekaan, Noer Ali mengajak seluruh santrinya mengikuti laskar Heiho, Keibodan, atau Peta yang di bentuk Jepang.
Di zaman Pendudukan Jepang Noer Ali menjadi ketua Laskar Rakyat Bekasi serta Komandan Hizbullah Batalion III Bekasi , kini dalam massa Revolusi, dia juga turun kelapangan untuk memperjuangkan Tegaknya RI, Jendral Sudirman dan Bung Tomo adalah sahabat beliau.
Setelah berbagai Perjuangan Republik Indonesia akhirnya  merdeka  pada Tanggal 17 Agustus 1945 , selang satu bulan kemudian terjadi insiden di Lapangan Ikada ( Kini Silang Monas ) lautan massa memenuhi  lokasi tersebut  untuk menunjukan dukungan penuh kepada para Pemimpin Negri, diantara Massa tersebut terdapat KH Noer Ali yang memimpin barisan dari Bekasi untuk turut serta dalam pertemuan Akbar tersebut.
Pada 29 November 1945 tentara sekutu memasuki daerah Bekasi-Kerawang , KH Noer Ali  memerintahkan para pengikutnya untuk mundur teratur, ada pula beberapa di antara mereka yang bertahan di Sasak Kapuk banyak yang gugur sebagai Shuhada
Polisi Belanda ( NICA ) semangkin kuat berkat dukungan Sekutu.
Pada Juli 1947 agresi militer Belanda memukul mundur kekuatan militer RI di jawa Barat  Noer Ali lantas menghadap otoritas tentara waktu itu Jendral Urip Sumoharjo ( sumber lain nenyebut: Jendral Sudirman ) di Jogya untuk meminta saran. Masukan itu berbunyi Noer Ali di minta tetap meneruskan Grilya di Jawa Barat, walaupun tidak memakai embel-embel Tentara Nasional, dengan stategi seperti ini harapan belanda akan terkecoh karena mengira pejuang Indonesia yang di Pimpin KH Noer Ali hanyalah rakyat biasa , ini memperbesar  peluang kemenangan RI.
Pada 1949 Belanda akhirnya mengakui kedaulatan Indonesia, Laskar- laskar Rakyat membubarkan diri, sejak saat itu KH Noer Ali Lebih fokus pada dunia pendidikan
Di Pekojan Jakarta Noer Ali Membentuk Lembaga Sekolah yang bekerja sama dengan Mu’allim Rojiun , disaat yang sama, pondok Pesantren di ujung Malang ( Bekasi ) kian berkembang sejak 1953 , Lembaga itu bertranformasi menjadi sebuah Yayasan  Bernama Yayasan At- Taqwa yang sampai saat ini masih berkiprah.
KH Noer Ali wafat pada Tanggal 29 Januari 1992 dan di makam kan di Kawasan Pesantren  At’ Taqwa Ujung Harapan  Kabupaten Bekasi.
M Iqbal Kabiro MPI Bekasi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here