PETANI DI 23 DESA GOTONG ROYONG NORMALISASI KALI BENDUNGAN SERENGSENG HILIR. TERHENTI KENDALA DI FINANSIAL

0
69

MPI- Bekasi
Petani di 23 Desa Kabupaten Bekasi gotong royong normalisasi kali Sukatani, aksi gotong royong yang tergabung dari para petani, relawan, serta masyarakat yang di mentori oleh Ustad Jejen, melakukan Normalisasi Bendungan Serengseng Hilir ( BSH ) kali Cikarang dalam rangka penanggulangan kekeringan di lahan petani dan banjir di wilayah Kabupaten Bekasi bagian Utara sekaligus membersihkan sampah yg memenuhi kali. 11/11/2021

Masuknya musim penghujan dan ditambahnya anomali iklim La Nina cuaca ekstrem di wilayah Indonesia, membuat Pemerintah Pusat, Daerah, serta semua stakeholder yang berkaitan dengan penangulangan bencana, mulai bekerja keras agar dampak dari cuaca buruk ini tidak berimbas besar kepada masyarakat, salah satunya banjir yang selalu menjadi langganan masyarakat Kabupaten Bekasi.

2 alat dari PJT II Bekasi dan dari PSDA berupa excavator jenis ampibi di terjunkan untuk membantu proses normalisasi. “saat ini tinggal 2 unit yg 3 unit telah di bawa pulang kembali oleh BBWSCC dan BBWSC untuk persiapan siaga banjir”,ujar ustad jejen.

” Dari 34 kilometer yg kami kerjakan tinggal 10 kilometer lagi, dan menghabiskan biaya RP 124.480.000 dalam waktu pengerjaan 63 hari ” tambahnya ustad jejen dalam pesan whatsapp.

Pemda Bekasi mengirim bantuan satu unit excavator jenis ampibi 35 DG. serta DLH Kabupaten Bekasi membantu biaya talangan sebesar Rp 113,100,000. d

” Kami berharap agar normalisasi ini segera terselesaikan mengingat ada dampak negatif di dua desa terutama di wilayah hulu kali kalau normalisasi ini hanya setengah. dampaknya yaitu banjir di wilayah Desa Sukamanah kecamatan Sukatani dan di wilayah Desa Sukamulya Kecamatan Sukatani, serta Desa Pantai Harapan Jaya Kecamatan Muara Gembong serta Desa Sukaringin Kecamatan Sukawangi dan Desa Jaya Bakti kecamatan Cabang Bungin akan tidak terbagi air, masih ada 3000 hektar lahan pertanian di tiga kecamatan tersebut.” Jelas Ustad Jejen.

Kegiatan gotong royong yang di prakarsai para petani ini mengalami beberapa kendala, pembuangan lumpur yg susah karena terkendala lahan yg penuh bangunan liar, banyaknya jembatan, serta tanggul kali yg lebih rendah dari pada Air, dan kekuranganya finansial biaya operasional.

” Sebetulnya kalau saja Pemda Kabupaten Bekasi turun tangan kelapangan dengan Dinas terkait yg selama ini memang menjadi topuksinya, kendala di lapangan ini kami anggap enteng dan bisa di atasi sesuai dengan masing-masing fungsinya, kami ingin di hulu tidak banjir dan di hilir tidak kekurangan air serta tanggul permanen. Karna sekarang menjadi hambatan di 10 KM lagi dari warung satu ke kumejing mudah – mudahan bisa terealisasi karna di dua titik itu yang benar – benar menjadi perhatian ” tambahnya ustad jejen.

Laporan red : shndy.M

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here