PN Rembang Gelar Sidang Perkara Limbah B3 Hadirkan Saksi Bidang EHS PT MNA  Medan dan Saksi Atas Kepemilikan Lahan Penampungan Limbah Dari Sedan

0
7
Patriot Indonesia-REMBANG 22 Desember 2021, Sidang kasus perkara limbah Bahan Berbahaya Dan Beracun (B3) berupa Spent Bleaching Earth (SBE) telah memasuki tahapan pemeriksaan saksi.
Sidang digelar di ruang sidang PN Rembang bersama dua saksi diantaranya Muhamad Daud Dasoka dari Medan Sumatra Utara, merupakan Environment Health and Safety (EHS) PT MNA dan Khamdani ( Kadus di salah satu Desa di Kecamatan Sedan, Rembang ) Sebagai pemilik lahan tempat penampungan limbah B3, dimana sidang   juga digelar secara virtual dengan enam terdakwa, pada pukul 10.59 WIB pada Rabu (22/12/2021).
Saksi yang dihadirkan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU ) adalah M Daud Dasoka ST, mengatakan,” dulunya saat limbah ini dikeluarkan di tahun 2020 ia sebagai Environment Health Safety (EHS) dari PT Multimas Nabati Asahan (PT MNA). PT ini merupakan Perusahaan minyak konsumsi penghasil limbah B3.
Environment Health Safety merupakan bagian di perusahaan yang bertanggung jawab terhadap keselamatan dan kesehatan kerja serta pengelolaan lingkungan hidup.
HSE memiliki tujuan untuk mencegah insiden yang mungkin terjadi selama operasional kerja dan mengurangi efek samping yang dihasilkan oleh operasional perusahaan.
Dalam pengakuan saksi bahwa tidak mengenal para terdakwa, saksi mengatakan hanya ada hubungan pekerjaan dengan Indra Lukito sebagai Direktur PT. Banteng Muda Trans
Saksi satu M Daud Dasoka dicecar oleh Hakim ketua Anteng Supriyo, bahwasanya Perusahaan penghasil limbah beserta Pengirim tidak bisa lepas dari kasus ini apabila tercecer di Rembang oleh karena tidak sesuai dengan kontrak.
“Limbah tercecer sampai di Kabupaten Rembang, semua pihak yang terkait mempunyai tanggung jawab”, tegas Hakim ketua Anteng Supriyo.
Saksi satu M Daud Dasoka, menjelaskan, bahwasanya PT MNA setiap hari dengan produksinya mampu menghasilkan limbah B3 sekira 50 ton per hari.
Kisaran  bulan Januari 2020, M Daud Dasoka mengatakan telah keluarkan limbah SBE B3 melalui PT Banteng Muda Trans dengan nama direktur yang saat ini sebagai terdakwa Indra Lukito sebanyak 10.000 Ton kepada PT Semen Indonesia.
Kemudian pada bulan April 2020 telah dikeluarkan 11.000 Ton melalui PT Banteng Muda Trans kepada PT Paras dengan direktur bernama Supriyadi dengan biaya yang dikeluarkan PT MNA Rp 650 perkilo.
Dikatakan saksi bahwa ia kaget tiba – tiba di panggil Polres dan Pengadilan sebagai saksi, sedangkan manives elektronik sudah di terima PT Multimas Nabati Asahan bahwa limbah telah sampai tujuan, namun ternyata limbah tercecer di kabupaten Rembang,
Saksi dari PT Multimas Nabati Asahan merasa kecewa, karena pengelolaan limbah B3 itu tidak sesuai dengan perjanjian awal,” imbuhnya.
Selain Daud Dasoka, saksi kedua ialah Khamdan yang merupakan pemilik lahan 1,5 hektar yang dipakai tempat penampungan limbah B3 di Desa Jatisari Kecamatan Sluke Kabupaten Rembang.
Di katakan oleh saksi kedua,” bahwasanya ia tidak mengetahui jika lahan yang di sewakannya pada saudara terdakwa Karimun ternyata di pakai tempat penampungan limbah B3, sebab dalam perjanjian awal  tersebut di manfaatkan sebagai galian c, untuk di ambil tanahnya sebagai hurugan, dengan biaya sewa sebesar 12juta per tahun untuk selama 4 tahun, namun hanya bertahan sebentar, lalu selama ini dalam keadaan nganggur dan ternyata oleh Karim di pergunakan sebagai tempat penampungan limbah, dan itu baru di ketahui setelah pemilik lahan di panggil kepolisian sebagai saksi,” jelasnya.
Laporan : Tanti /Aziz MPI Rembang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here