11 APRIL, MENGENANG JEJAK PAHLAWAN DI CIBUBUAN SUMEDANG

0
10

MPI-Sumedang

Desa Cibubuan merupakan sebuah desa yang berada di wilayah Kecamatan Conggeang Kabupaten Sumedang

Desa Cibubuan erat kaitannya dengan sejarah perjuangan melawan penjajah Belanda. Pada tanggal 11 april 1949 di wilayah Desa Cibubuan terjadi pertempuran yang sengit antara pasukan TNI melawan tentara Belanda.

Menurut salah satu wartawan senior di Sumedang Dedi Rustandi, pada 11 April 1949, selepas azan subuh pasukan baret hijau belanda (kst) merangsek dan mengepung kampung lencang desa cibubuan, conggeang yang lokasinya cukup jauh dari jalan utama legok-buahdua di kaki gunung tampomas.

Rentetan dan desingan suara peluru membuat warga terjaga. bertahan di rumah. dalam serangan itu Kapten Edi Sumadipraja, Komandan Kompi dan Kepala Staf Batalion II/Tarumanagara serta empat pengawalnya ditembak mati.

Persembunyian Mayor Abdurahman yang sedang sakit terendus para serdadu belanda di cibubuan.  saat pasukan baret hijau bergerak senyap mengepung lencang. di pesawahan pasukan kst bertemu dengan sejumlah anak-anak yang sedang memeriksa jebakan  belut. salah satunya bernama yasin anak angkat kapten edi yang dipungut saat pasukan siliwangi pulang, long march, dari jogjakarta ke buahdua sumedang.  yasin menyangka pasukan baret hijau berseragam hijau itu rekan-rekan bapak angkatnya.

“jang, dimana imah pak edi soemadipradja jeung pak abdurahman?” tanya salah seorang anggota baret hijau bumi putra berbahasa sunda. dengan polos yasin menunjukan rumah tempat bersembunyinya mayor abdurahman dan kapten edi.

pasukan baret hijau juga berhasil menahan mayor omon abdurahman dan menginterogasinya. menanyakan keberadaan panglima divisi II/siliwangi, letnan kolonel R sadikin.
Sekitar dua jam sebelumnya, ketika dingin menusuk tulang di lereng gunung tampomas, pukul 03.00, mayor omon abdurahman berhasil memindahkan letnan kolonel sadikin dan bergeser dari cibubuan menuju darmaraja.

kompi eric, unit kesatuan baret hijau (kst) diberi tugas memburu dan menjadi eksekutor ke sumedang. kompi eric kst ini dikenal ganas terhadap pejuang indonesia.

“saya tidak pernah memelihara tawanan perang, saya memburu mereka memang untuk dibunuh,” ujar letnan satu henk ulrici, komandan kompi eric, dikutip haagse post edisi agustus 1965 https://historia.id/militer/articles/amuk-baret-hijau-di-leuncang-p0klk/page/2

operasi besar-besaran tentara belanda ini menyusul penyerangan pos-pos pertahanan tentara belanda yang dirancang secara matang oleh mayor omon abdurahman. pos tentara belanda di pusat sumedang kota, tanjungkerta serta darmaraja, sebulan sebelumnya, 11 maret 1949, membuat tentara belanda kewalahan dan meminta bantuan ke bandung. dua kompi speciale tropen koninklijk alias pasukan baret hijau datang ke sumedang.

namun belum sampai ke sumedang, pasukan baret hijau ini diadang di cadas pangeran dan pertempuran terjadi di kawasan anjung, pasanggrahan. iring-iringaan tentara baret hijau ini disergap dari bukit anjung ketika iring-iringan tentara melintasi jalan dan para pejuang berhasil menewaskan 18 tentara baret hijau.  karena persenjataan yang terbatas, pejuang sumedang ini mundur dan pasukan baret hijau mengusai lagi sumedang kota, menyerbu darmaraja, wado, cadasngampar, conggeang dan buahdua.

operasi pencarian pejuang terus dilakukan tentara belanda dan membuat mayor oman abdurahman yang ada di kawasan sumedang utara kembali ke buahdua untuk memindahkan kolonel sadikin dari cibubuan.

mayor omon abdurahman yang ditawan diinterogasi namun tetap menolak menyebutkan keberadaan pasukan yang lain termasuk keberadaan sadikin. pistol letnan ulrici, komandan kompi eric dari kst yang ditodongkan ke kepala mayor abdurahman ini menyalak, peluru menembus kepalanya. jasad abdurahman diseret dan didudukan diatas batu penyangga di tiang balai desa cibubuan ditengah warga desa yang dikumpulkan.

operasi militer belanda ke lencang gagal. panglima divisi siliwangi letkol sadikin berhasil lolos. namun siliwangi harus kehilangan 8  anggota yon II tarumanegara. 4 rakyat sipil juga turut dieksekusi setelah disiksa dengan tusukan bayonet dan hantaman popor senjata.

 

Aep Sunarya MPI Jabar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here