Kisah Acip Ramadhan Melatih Atliet Renang Penyandang Disabilitas: Butuh Kesabaran Ekstra

0
12

Bekasi-Patriot Indonesia

Acip Ramadhan dikenal sebagai pelatih atlet renang disabilitas bertangan dingin. Dari tangan dinginnya, Acip sudah mengumpulkan banyak penghargaan, hasil dari prestasi para atlet renang didiknya. Terakhir, saat Ajang Pekan Paralimpik Nasional (Peparnas) XVI Papua 2021, atlet renang didikan Acip berhasil merebut 6 medali emas, 3 perak dan 1 perunggu bagi Jawa Barat.

Acip bergabung sebagai pelatih atlet renang disabilitas di National Paralympic Commitee (NPC) Indonesia Kabupaten Bekasi sejak 2013 silam. Dia merupakan sagu-satunya pelatih disabilitas dari 12 cabang olahraga disabilitas yang menjadi konsentrasi National Paralympic Commitee (NPC) Indonesia Kabupaten Bekasi.

Banyak suka duka Acip selama melatih para atlet disabilitas. “Butuh kesabaran ekstra dan ketulusan hati untuk mencetak atlet difabel berprestasi,” tutur Acip yang juga merupakan mantan atlet Disabilitas berprestasi pada 10 tahun silam saat ditemui Mitranews.net di sekretariat NPCI Kabupaten Bekasi, Kamis, 14 Juli 2022

Menurut Acip, melatih atlet difabel merupakan sesuatu yang kompleks. Hal itu lantaran kondisi para atlet berasal dari latar belakang dan kondisi yang berbeda beda cacat tubuh yang berbeda.

Begitu pun banyak cerita masa lalu yang kemudian membawanya bergabung dengan NPCI Kabupaten Bekasi. Ada yang tadinya malu di pihak keluarganya karena memiliki anggota yang cacat, dan ada juga yang berlatar belakang dikucilkan dari keluarga.

“Dengan latar belakang yang berbeda beda itu, saya mencoba pahami sebelum langsung menaruhnya di mes. Setelah berada di mes, kita dekati secara personal, kita pelajari emosi dan karakternya dan setelah dirasa kondisinya siap, barulah diberikan teknik dan program pelatihan,” urai Acip.

Di NPCI Kabupaten Bekasi, lanjutnya, ada tiga kategori disabilitas yang dijadikan atlet; tuna netra, tuna daksa dan tuna grahita.

“Tantangan paling sulit adalah membina atlet tuna grahita,” terangnya.

Sebagai pelatih atlet tuna grahita, Acip harus ikut tertawa ketika atlet yang dilatihnya sedang bahagia. Namun, ia juga harus ikut bersedih ketika anak asuhnya sedih.

“Sering kejadian saat anak yang tuna grahita itu lagi down ya down, dan kalau lagi fight ya fight,” kenang Acip.

“Lalu, kalau datang rasa malasnya, dia duduk dan diam. Dipluitin pun tetap diam dan kadang berbalik marah atau merebut pluit lalu memaksa kita yang berlatih,” kata Acip merasa geli.

Maka, cara mengatasinya Acip mendiamkan dulu, mengajak ngobrol dengan yang lain dan atau saat pulang ke mes sambil makan bareng.

“Terkadang harus diajak jalan-jalan agar kondisinya tenang, setelah tenang barulah bisa diberikan lagi program pelatihannya,” jelasnya.

Acip mengaku sering mendapatkan perilaku atlet yang cepat marah. Selain itu, ia juga sering mendapat ejekan dari masyarakat sekitar yang menganggap remeh dan memandang sebelah mata para penyandang disabilitas.

“Kuncinya, harus berbicara dari hati ke hati dengan para atlet. Selain itu, juga harus lebih sabar,” ucapnya.

Diakui Acip, secara penampilan, para atlet disabilitas memang apa adanya. Tak jarang mereka memakai sendal jepit dan celana pendek saat keluar dari mes.

Sekali waktu, cerita Acip, pernah ada salah satu atletnya yang dicela. Sang atlet pun menceritakan kejadian tersebut kepada Acip sambil menangis karena emosi.

“Besoknya saya ajak temen saya ketemu orang yang mencela itu. Saya kasih tahu kalau orang yang dicelanya itu adalah atlet nasional. Saya kasih lihat foto-fotonya. Orang itu pun kaget karena memang banyak yang tidak tahu tentang disabilitas,” ujar Acip.

Lanjut Acip, meski pekerjaannya terasa begitu berat, dia mengaku tidak pernah letih untuk melatih para atletnya.

Acip juga kerap mengeluh jika mendapatkan kesulitan, tapi keluh kesahnya kemudian hilang lantaran melihat perjuangan para atletnya yang begitu bersemangat untuk memberikan prestasi terbaik buat Indonesia.

“Saya sedih ketika ramai diberitakan ada pemotongan bonus 30 persen yang bersifat wajib dari para atlet disabilitas di Kabupaten Bekasi,” lanjut Acip.

Hal yang membuatnya sedih dari pemberitaan itu lantaran disebutkan pemotongan itu wajib dan dipaksakan oleh pengurus.

“Padahal mah pak, pemotongan itu bersifat sukarela dan uangnya dipake untuk kebutuhan para atlet atlet lainnya, untuk uang saku, untuk kebutuhan mess, untuk biaya saat latihan dan bayar pelatih dan kebutuhan lainnya saat kita sedang engga ada uang,” beber Acip.

Meski begitu dirinya ikhlas dengan fitnah yang ramai diberitakan media. “Kita sadar kalau ada yang nanya pemotongan ya jawab adanya, tapi kemudian kembali lagi ini solidaritas sesama penyandang disabilitas, jadi tolong jangan giring kami, ini kami ikhlas dan kita membalikkan ke diri sendiri banyak bersyukur,” tutupnya.

 

Redaksi MPI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here