Mencermati Seorang Pemimpin, Apakah Dia Seorang Leadership Ataukah Seorang Dealership

0
24

 

Bekasi – Patriot Indonesia

KEPEMIMPINAN yang berkualitas (leader) adalah persoalan krusial (fundamental) di dalam membangun bangsa dan negara. Dia tidak semata-mata sosok yang terampil dan pandai berbicara, berorasi atau berdiplomasi. Tetapi memiliki komitmen dan kualitas dalam bekerja dan melayani.

Kepemimpinan yang menjunjung tinggi martabat kemanusiaan akan terasa indah bila dalam merumuskannya tidak selalu dengan kata-kata. Pemenuhan komitmen, meski dilakukan seorang “pemimpin bisu” sekalipun, akan menjadi bahasa kemanusiaan dan menghapus segala kesalahpahaman antara pemimpin dan masyarakat, dan antara pemimpin yang satu dan pemimpin lainnya

Memimpin manusia, dengan demikian, merupakan proses olah seni dan proses kreatif, yang disadari atau tidak merupakan langkah untuk menempuh jalan syukur dan menunaikan amanah.

Terkadang kita terkecoh oleh sikap prmimpin yang terlihat santun, pandai cara bicaranya dan terkesan seolah mau mendengar keinginan masyarakat.

Diapun berani membuat komitmen dan makin berani membuat harapan-harapan yang membuai semua orang sehingga menganggapnya bak manusia setengah dewa.

Jangan tertipu, dia bukan seorang pemimpin (leader), tapi makelar (dealer) yang memposisikan diri selayaknya seorang leader!.

Sudah banyak orang seperti itu yang menjadi pemimpin di negeri ini dan membuat banyak orang merugi, menderita secara moral dan materiil sehingga menyebabkan terjadi banyak chaos di dalamnya.

Perlu dipahami, jiwa dealership inginnya semua serba cepat, bisa diatur dan tidak memikirkan jangka panjang. Dia kerap ingkar terhadap komitmen dan tidak peduli jika kelak ada pihak-pihak yang dirugikan. Hal penting semua hasrat keinginannya tercapai dan mendapatkan untung.

 

Jika kita menoleh ke belakang, krisis multidimensional (moral dan material) yang pernah menggerogoti Negara kita salah satu faktor penyebabnya berpangkal dari kepemimpinan nasional yang kandas membawa bahtera Indonesia berlabuh menuju pulau harapan.

Pemimpin saat itu gagal membawa Indonesia untuk bangkit dari kehinaan, kebodohan, keterjajahan fisik dan mental, serta gagal melepaskan diri dari kualitas kehidupan yang rendah.

Secara obyektif kita mengakui pada tahun-tahun pertama rezim Orde Baru terlihat ada kreativitas dan komitmen (keterikatan) yang kuat untuk bersungguh-sungguh membangun bangsa dengan visi jauh ke depan.

Tetapi, seiring pergeseran waktu, harapan itu tidak berhasil diwujudkan secara kongkrit (realistis). Dan bahkan kepemimpinan nasional mengalami de-generasi dan demoralisasi.

Demikian halnya pada era reformasi. Meski kebebasan berserikat dan berpendapat mendapat saluran yang memadai, tetapi penyelenggaraan ketatanegaraan kurang lebih sama dengan pemerintahan sebelumnya.

Penegakan hukum, pemberantasan KKN, keamanan, ekonomi, pendidikan, kebudayaan dan berbagai bidang kehidupan yang lain masih belum mengalami kenaikan yang berarti.

Perubahan mendasar dan signifikan tak kunjung dirasakan oleh masyarakat bawah yang selama ini menjadi tulang punggung Negara. ( Penulis Doni Ardon )

 

Redaksi MPI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here