5 Upacara Adat Batak Yang Harus Kamu Ketahui

Sumatra Utara menjadi provinsi yang dihuni berbagai etnis. Adat Batak menjadi salah satu etnis mayoritas di Provinsi Sumatra Utara.

Sampai terkadang, jika pergi tanah Jawa, banyak yang mengira orang yang datang dari Sumut adalah Batak. Peradaban Batak, telah banyak mewariskan berbagai tradisi sumatera utara. Tentunya, seluruh tradisi itu berkait paut dengan kehidupan. Pelestarian tradisi ini pun terus dilakukan di tenga era modern. Media banyak, mulai dari pertunjukan seni hingga pariwisata. Peradaban Batak yang berpusat di Danau Toba, sebenarnya menjadi potensi yang sangat bagus.

Tidak sedikit orang yang masih menjalankan tradisi – tradisi tersebut. Meskipun memang, jumlahnya kian berkurang karena termakan modernisasi. Patriot Indonesia mencoba merangkum tujuh tradisi Batak yang masih akrab didengar. Beberapa di antaranya juga  masih di tampilkan dalam pertunjukan seni. Semoga bisa menjadi inspirasi bagi para millennials.

Berikut 5 Adat Batak Yang Harus Kamu Ketahui

  • Adat Batak – Gondang Naposo (Tarian Muda Mudi Batak Untuk Mencari Jodoh)

Adat Batak - Gondang Naposo (Tarian Muda Mudi Batak Untuk Mencari Jodoh)

Gondang  Naposo adalah Tarian sumatera utara mencari jodoh dalam adat Batak. Pesertanya adalah para muda-mudi. Dulunya, jika di dalam kampung tertentu ada yang lama mendapatkan jodoh, disepakatilah untuk menggelar Gondang Naposo. Nantinya, para muda-mudi kampung lain datang  untuk melihat calon kekasihnya.

Sebelum pandemik COVID-19, Gondang Naposo merupakan festival rutin digelar di Samosir. Menjadi salah satu acara unggulan dalam Festival Horas Samosir Fiesta. Para muda-mudi beradu koreografi untuk menjadi pemenang. Festival Gondang Naposo biasanya digelar saat bulan purnama setelah upacara Mangsae Taon yang biasanya dilaksanakan setelah panen raya. Mangsae Taon merupakan sebuah hari raya bagi masyarakat Batak tempo dulu. Di beberapa daerah, ada yang menyebutnya Pesta Bius, Pasahat Horbo Bius, Patasumangot, atau yang lainnya.

  • Adat Batak – Mangulosi (Menyematkan kain Dengan Makna-Makna Khusus)

Adat Batak - Mangulosi (Menyematkan kain Dengan Makna-Makna Khusus)

Jika datang ke acara adat Batak, ulos sudah pasti menjadi benda yang terus menerus dilihat. Semua orang yang dianggap sudah memenuhi syarat pasti memakainya. Dalam tradisi Batak atau pun beberapa etnis lainnya seperti Simalungun, Karo dan Dairi, mangulosi menjadi salah satu tradisi yang masih dipertahankan hingga sekarang. Prosesnya adalah dengan mengalungkan kain Ulos ke pundak orang lain.

Dari berbagai sumber menyebut, mangulosi dinilai akan memberikan perlindungan dari segala gangguan. Tradisi mangulosi dilakukan orang yang dituakan kepada kerabat yang memiliki partuturan, kedudukan yang lebih rendah seecara adat, seperti orang tua pada anak. Dalam upacara pernikahan Batak, ada tradisi mangulosi dari tulang (Paman) kepada kedua pengantin, hal yang menunjukkan kekhasan relasi dalam keluarga Batak.

Ragam ulos pun begitu banyak. Tergantung siapa yang memakai dan untuk apa peruntukan ulos. Masing-masing ulos pun punya motif yang berbeda. Misalnya, Ulos bolean sunting dipakai sebagai selendang pada acara kematian. Ulos ragi hotang biasa menjadi kado pengantin, dan ulos ragi huting yang digunakan gadis Batak dengan cara dililitkan di dada, atau dikalungkan di leher oleh para orang tua yang sedang dalam perjalanan. Di era modern, ulos terus bertransformasi. Banyak perajin yang menjadikan ulos sebagai bahan untuk pakaian.

  • Adat Batak – Marari Sabtu (Ibadah Para Ugamo malim)

Adat Batak - Marari Sabtu (Ibadah Para Ugamo malim)

Ugamo Malim menjadi salah satu kepercayaan leluhur yang hingga kini dianut oleh sebagian etnis Batak. Orang yang menganut Ugamo Malim disebut Parmalim. Pusat Ugamo Malim berada di Huta Tinggi, tepatnya di Desa Pardomuan Nauli, Kecamatan Laguboti, Kabupaten Toba.Marari Sabtu menjadi salah satu ritual ibadah Ugamo Malim. Ibadah di gelar di Bale Pasogit pada hari Sabtu. Ibadah selalu digelar secara khusyuk. Ugamo Malim berisi ajaran-ajaran kebaikan dan sangat mencintai perdamaian. Ini terlihat dari doa dan perilaku para pengikutnya.

  • Adat Batak – Si Paha Sada Dan Sipaha Lima

Adat Batak - Si Paha Sada Dan Sipaha Lima

Aktivitas spiritual para pemeluk Ugamo Malim memang menarik untuk dipelajari. Nilai-nilai yang diajarkan selalu berkaitan dengan kehidupan. Dalam hal penanggalan, Parmalim punya metode sendiri. Bahkan punya hari besar yang salah satunya adalah Sipaha Sada. Sipaha Sada secara umum sering disebut sebagai hari pertama tahun yang baru. Namun tidak sekadar perayaan buka tahun, Sipaha Sada juga dirayakan sebagai hari kelahiran tokoh suci dalam ajaran agama Malim.

Menandai datangnya Sipaha Sada, sehari sebelumnya, warga Parmalim menggelar ibadah puasa penuh selama 1 hari 1 malam. Tidak boleh makan dan minum. Ibadah puasa itu ditandai dengan ritus mangan napaet yaitu makan makanan yang pahit. Ritus itu dilakukan di awal dan akhir ibadah puasa. Selain Sipaha Sada, ada juga Sipaha Lima. Tradisi ini biasa digelar di Desa Hutatinggi, Kecamatan Laguboti, Balige. Sipaha Lima rutin dijalankan setiap tahun.

Dalam ritual Sipaha Lima, masyarakat Parmalim menggelandang seekor kerbau ke altar sebagai kurban persembahan. Kerbau itu dinamai Horbositikko tanduk siopat pisoran. Kegiatan ritual itu diikuti orang tua, remaja, bahkan anak-anak. Ritual diiringi musik Ogung Sabangunan (alat musik tradisional Batak Toba seperti Tagading, Sarune, Ogung, Doal, Pangkeseki) dan umat Parmalim manortor (menari) sahadaton mengiringi penyerahan sesembahan kepada Tuhan.

  • Adat Batak – Horja Bius (Tradisi Musyawarah Ala Etnis Batak)

Adat Batak - Horja Bius (Tradisi Musyawarah Ala Etnis Batak)

Horja bius, ritual berusia ratusan tahun ini merupakan elemen dasar dalam sistem kelembagaan masyarakat Toba. Sebuah tradisi Ruas Parmalim, menyelesaikan masalah dengan mengedepankan musyawarah. Raja bersama tetua adat berkumpul mengatur tatanan pemerintahan dan spiritual pada satu kampung di zaman dahulu.

Horja bius terdiri dari beberapa ritual, mulai ulaon hahomion, tortor tunggal panaluan, tortor parsiarabu, marjoting, pajongjong borotan, makharikkiri horbo, ditutup mangalahat horbo. Ulaon hahomion berisi ziarah ke tambak (makam) Dolok Ompu Raja Sidabutar dan mangalopas tu mual natio. Ini ritual penghormatan kepada roh-roh leluhur untuk memohon berkat perlindungan dan kelancaran dalam melaksanakan tahapan-tahapan upacara selanjutnya.

Di Desa Tomok, horja bius menjadi salah satu event tahunan, bagian dari Horas Samosir Festival. Dikemas dalam bentuk teater kolosal, modifikasi yang  tidak melunturkan kesakralan. Pada masanya, horja bius Tomok adalah persembahan kepada leluhur Ompu Raja Sidabutar yang telah mendirikan Kampung Tomok. Suku Batak Toba memiliki pemahaman bahwa roh leluhur masih ada di sekitar mereka, meyakini roh akan mengawasi dan tetap menyertai keturunannya. Kepercayaan ini terpatri hingga saat ini bagi mereka yang memegang teguh adat istiadat budaya habatakon.

Leave a Comment