Indonesia

Sejarah Suku Simalungun Dan kepercayaan Batak Simalungun

Suku Simalungun merupakan Suku batak yang berada di Simalungun. Berikut Sejarah Suku Simalungun Dan kepercayaannya Batak Simalungun.

Setelah ditelusuri lebih lanjut, suku batak Simalungun memiliki berbagai kepercayaan yang berkaitan dengan penggunaan mantra dari “Datu” (dukun) disertai persembahan kepada roh leluhur, selalu didahului dengan doa kepada tiga dewa yang disebut Naibata, yaitu Naibata di atas ( dilambangkan dengan warna putih), Naibata di tengah (ditunjukkan dengan warna merah) dan Naibat di bagian bawah (ditunjukkan dengan warna hitam). Tiga warna yang merepresentasikan dewa-dewa tersebut (putih, merah, dan hitam) mendominasi berbagai ragam hias suku Simalungun, mulai dari pakaian hingga hiasan rumah.

Berikut Sejarah Suku Simalungun Dan Kepercayaan Batak Simalungu

Kepercayaan Dan Sejarah Suku Simalungun

Kepercayaan Dan Sejarah Suku Simalungun

Masyarakat  adat istiadat Simalungun percaya bahwa manusia diutus ke dunia oleh Naibata dan dilengkapi dengan Sinumba, yang juga terdapat pada berbagai barang seperti peralatan dapur dan sebagainya, sehingga barang-barang tersebut wajib disembah. Orang Simalungun memanggil roh orang mati Simagoth. Baik Sinumba maupun Simagot harus dikorbankan dalam pemujaan agar mereka mendapat berbagai manfaat dari kedua persembahan tersebut.

Ajaran Hindu dan Budha juga telah mempengaruhi kehidupan di Simalungun, terbukti dengan tinggalan berbagai arca dan arca yang ditemukan di beberapa situs Simalungun yang menggambarkan makna Trimurti (Hindu) dan Buddha menunggang gajah (Buddha). Agama Kristen masuk ke tanah Simalungun pada tahun 1909, dibawa oleh seorang misionaris Jerman bernama Pdt.Agust Theis, tepatnya di Pematang Raya.

Pada tanggal 26 September 1940, masyarakat Simalungun menjadi sebuah distrik di dalam HKBP. Dan pada tanggal 5 Oktober 1952, para anggota Sinode Kabupaten Simalungun bertemu untuk memisahkan Simalungun dari HKBP dan mengangkat pengurus harian dan rapat gereja ke HKBP. Dan pada akhirnya, tepat pada tanggal 1 September 1963, HKBPS resmi berganti nama menjadi GKPS (Gereja Kristen Protestan Simalungun). Simak terus sejarah suku simalungun dibawah.

Sejarah Suku Simalungun Dan Asal-usulnya

Sejarah Suku Simalungun Dan Asal-usulnya

Ada berbagai sumber mengenai asal usul dan sejarah suku Simalungun, namun kebanyakan menyebutkan bahwa nenek moyang suku Simalungun berasal dari luar Indonesia.
Kedatangan dan sejarah suku simalungun ini dibagi menjadi 2 gelombang

Sejarah Suku Simalungun – Gelombang Pertama (Proto Simalungun)

diperkirakan datang dari Nagor (India Selatan) dan pegunungan Assam. (India Timur) sekitar abad ke-5 menyusuri Myanmar, Siam dan Malaka, untuk kemudian menyeberang ke Sumatera Timur dan mendirikan kerajaan Nagur dari dinasti Raja Damanik.

Sejarah Suku Simalungun – Gelombang Kedua (Simalungun Deutero)

Gelombang kedua sejarah suku simalungun (Simalungun Deutero) datang dari suku-suku di sekitar Simalungun yang berdekatan dengan suku asli Simalungun.

Dalam gelombang proto Simalungun di atas, Tuan Taralamsia Saragi mengatakan rombongan yang terdiri dari keturunan 4 raja besar Siam dan India bergerak dari Sumatera Timur ke daerah Aceh, Langkat, daerah Bangun Purba, ke Bandar Khalifa dan Batubara. Kemudian suku setempat memaksa mereka pindah ke pinggiran Danau Toba dan Samosir. Pustakha Parpandanan Na Bolag (perpustakaan kuno Simalungun) mengisahkan bahwa Parpandanan Na Bolag (cikal bakal wilayah Simalungun) merupakan kerajaan tertua di Sumatera Timur yang wilayah kekuasaannya terbentang dari Jayu (pantai Selat Malaka) hingga Toba .

Beberapa sumber lain menyebutkan wilayah kekuasaannya meliputi Gayo dan Alas di Aceh hingga sempadan Sungai Rokan di Riau. Nah, di Kabupaten Simalungun sendiri, akibat imigrasi yang besar, suku Simalungun mayoritas hanya ada di wilayah Simalungun Atas saja.

Sejarah Suku Simalungun

Sejarah Suku Simalungun

Menurut sumber kuno dan cerita rakyat adat batak sejarah Simalungun, masyarakat yang kemudian menjadi suku Simalungun merupakan keturunan dari nenek moyang yang berbeda. Dalam perjalanan sejarah suku simalungun, Simalungun datang dalam dua gelombang. Dipercaya bahwa gelombang pertama (proto Simalungun) datang dari India Selatan (Nagore) dan India Timur (pegunungan Assam) sekitar abad ke-5 menyusuri Burma hingga Siam dan Melaka, kemudian melintasi Sumatera Timur dan mendirikan Kerajaan Nagur dari raja dinasti Damanik. Kemudian gelombang kedua (Deutro Simalungun), yang merupakan pembaruan suku tetangga dengan suku asli Simalungun (Herman Phurba Tambak, SIB 03/09/2006, hlm. 9).

Kemudian para panglima perang (Raja Gorakh) Kerajaan Nagur yang dijuluki Saragi, Sinaga dan Purba dijadikan menantu Raja Nagur dan kemudian mendirikan kerajaan-kerajaan: Silu (Purba Tambak), Tano Jawa (Sinaga), Raya (Sarang). Kerajaan-kerajaan ini pada abad 13-15 mengalami serangan dari tentara Singasari, Majapahit, Rajendra Chola dari India dan terakhir sultan Aceh, Melayu dan Belanda. Dikenal dalam cerita rakyat Simalungun sebagai “hattu ni sappar”, yang menggambarkan keadaan mengerikan di Simalungun akibat perang, mayat bergelimpangan dimana-mana, kekacauan menyebabkan merajalelanya wabah kolera.

Dan konon, menurut legenda, orang Simalungun mengungsi menyeberangi Laut Tawar (penawar racun Sapar) menuju pulau yang kemudian diberi nama “Samosir” (Sahali Misir). Kelak, keturunan orang Simalungun yang tinggal di Samosir akan kembali ke kampung halamannya (huta hasusuran) di Nagura dan Anda akan melihat bahwa daerah itu ditinggalkan orang karena mengungsi, sepi, dan yang tersisa hanyalah sisa-sisa orang Nagur. , sehingga daerah Nagura disebut “sima-sima ni nalungun”, dan lama kelamaan menjadi Simalungun (daerah sepi) (M.D. Purba, 1997).

Pembauran dengan suku-suku tetangga terutama dari pulau Samosir, Silalakhi, Karo dan Pakpak menyebabkan munculnya marga-marga baru di Simalungun, seperti marga Sidauruk, Sidabalok, Siadari, Simarmata, Simanihuruk, Sidabutar, Munte, Sijuang, yang merupakan terkait dengan marga Saragih, Manorsa, Simamora, Sigulang Batu, Parhorbo, Sitorus dan Pantomkhobon terkait dengan marga Purba, Malau, Limbong, Sagala, Gurning, Manikraja terkait dengan marga Damanik, Sipayung, Sihaloho, Sinurat, Sitopu terkait dengan Sinaga klan (tetapi setelah Revolusi Sosial dia kembali ke klan aslinya).

Selain itu, marga Lingga, Manurung, Butar-butar, Sirait masih ada di Simalungun bagian timur dan barat. Sehingga sebelum era modern ini, suku Simalungun yang “berwarna” membuat masyarakat Simalungun sangat toleran bahkan nyaris “punah” karena terlalu terbuka dengan pendatang. Belum lagi suku Simalungun yang masuk Islam sejak abad ke-15 di Asahan, Delhi dan Serdang, mengaku Melayu dan kehilangan identitasnya sebagai suku Simalungun.

Dahulu, menurut Mr. Taralamsyahu Saragih (surat pribadi, 1963), orang Simalungun asli adalah keturunan dari empat raja besar yang datang dari Siam dan India bersama rakyatnya, masuk ke Sumatera Timur dan melanjutkan perjalanannya ke Aceh, Langkat dan kecamatan Bangun Purba dan Bandar Khalifa hingga Batubara. Akibat gempuran orang “Jau”, lambat laun mereka mencapai pinggiran Danau Toba hingga Samosir. Adapun empat marga Simalungun, empat marga kerakyatan dengan nama SISADAPUR (Sinaga, Saragih, Damanik dan Purba) berasal dari “harunguan bolon” ​​(dewan agung) keempat raja tersebut, sehingga tidak saling serang. agresif. dan “marsiurupan bani hasunsahan na legan, rup mangtanding munssuh”.

Sistem Politik Simalungun

Sistem Politik Simalungun

Pada era sebelum Belanda masuk ke Simalungun, suku ini terbagi ke dalam 7 daerah yang terdiri dari 4 kerajaan dan 3 partuanan.

Kerajaan tersebut adalah:

1. Siantar (menandatangani surat tunduk pada belanda tanggal 23 Oktober 1889, SK No.25)
2. Panei (Januari 1904, SK No.6)
3. Dolok Silou
4. Tanoh Djawa (8 Juni 1891, SK No.21)

Sedangkan partuanan (dipimpin oleh seseorang yang bergelar “tuan”) tersebut terdiri atas:

1. Raya (Januari 1904, SK No.6)
2. Purba
3. Silimakuta
Setelah Belanda datang, maka ketujuh wilayah tersebut dijadikan sebagai kerajaan yang dipersatukan dalam Onderafdeeling Simalungun.

Selain 3 partuanan yang tersebut atas masih terdapat beberapa partuaan yang lain antara lain:
1. Parbalogan (tuan parbalogan op.Dja Saip Saragih Napitu) yang wilayahnya dari parmahanan hingga ke tigaras
2. Sipolha (tuan Am.Dja Banten Damanik) merupakan orang tua dari mantan Bupati Simalungun Dja Banten Damanik
3. Sipintu angin (tuan op.S.Saragih Turnip) merupakan orang tua dari Saragih Ras. Yang hingga kini tugunya (tugu hoda bottar)masih terlihat di Perbatasan Panatapan Ds.Tigaras
4. dll.

Partuanan-partuanan ini tidak pernah tunduk kepada pemerintahan Belanda saat itu, di daerah dilakukan perlawanan perlawanan kecil secara bergerilya.

Ingin Bermain Game Slot Online Terpercaya? Kunjungi Link Berikut :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *