Berikut 3 Material Rumah Adat karo Dan Keunikannya

Bahan material yang digunakan untuk membangun Rumah Adat karo adalah Bahan Alam. Berikut 3 material rumah adat karo dan keunikannya.

Bahan material Rumah adat batak karo yang digunakan untuk membangun Siwaluh Kabuh adalah dengan menggunakan bahan-bahan yang diambil dari alam. Dimana pada bagian tiang, dinding, lantai dan juga semua kerangka akan menggunakan bahan kayu dan juga bambu yang didapatkan dari hutan. Untuk kayu yang dipilih dalam pembuatan rumah ini juga tidak boleh sembarangan, dimana hanya perlu menggunakan kayu ndrasi, kayu ambartuah, dan juga kayu sabernaik saja yang bisa dipakai.

Material Rumah Adat Karo Menggunakan Material Alami

Material Rumah Adat Karo Menggunakan Material Alami

  • Material Rumah Adat Karo – Kayu Ndrasi

Material rumah adat karo Kayu ndrasi ini dipercaya dapat menjauhkan para penghuni rumah dari segala macam penyakit.

  • Material Rumah Adat Karo – Kayu Ambartuah

Salah satu material rumah adat karo Kayu Ambartuah ini dipercaya dapat mendatangkan tuah dan juga kesejahteraan.

  • Material Rumah Adat Karo – Kayu Sabernaik

Material Rumah Adat Karo Kayu ini dipercaya suku batak dapat memudahkan datangnya rezeki. Sementara untuk bagian dari atapnya akan menggunakan ijuk yang sudah kering. Ijuk tersebut dapat memberikan manfaat yang bagus untuk para penghuninya, dimana ruangan tidak akan terasa panas dan juga yang terpenting adalah kuat pada saat terjadinya hujan. Untuk menyambungkan semua bagian tersebut, maka kayu-kayu akan diikat dan juga dililit dengan menggunakan ijuk tanpa menggunakan paku.

Daya Tampung Rumah Adat Karo

Seperti yang sudah kita bahas diatas, bahwa rumah adat istiadat Karo merupakan rumah yang cukup besar dan material rumah adat karo bukan yang sembarangan dan bisa ditempati oleh 8 keluarga atau bahkan 40 orang penghuni. Hitungan tersebut diukur dengan menggunakan rata-rata anggota dari keluarga besar yang terdiri dari 5 orang, yakni suami, Istri dan juga 3 orang anak. Anak kecil akan tidur bersama pada orang tuanya hingga mereka berumur dewasa. Sedangkan untuk para pria dewasa akan beristirahat di bale-bale lumbung dan untuk para gadis akan tidur bersamanya para anggota keluarga lainnya.

Dimensi Rumah Adat Karo

Rumah adat ini mempunyai ukuran yang terbilang cukup besar dengan panjang mencapai hingga 17 meter dengan lebar rumah mencapai 12. meter dan ketinggalan juga mencapai 12 meter. Wah sangat besar bukan?

Pembangunan Rumah Adat Karo

Berikut ini merupakan langkah-langkah yang digunakan untuk membangun rumah adat Karo menggunakan material rumah adat karo yang alami

Padi-padiken Tapak Rumah

Untuk langkah pertama, biasanya pihak keluarga akan menentukan letak dan juga arah rumah yang akan didirikan. Hal tersebut juga tidak jauh berbeda dengan Feng Shui adat istiadat pada kepercayaan masyarakat Tionghoa. Pihak keluarga harus mengundang seorang dukun guna untuk melakukan langkah pertama ini.

Ngempak

Jika posisi rumah tersebut sudah ditentukan, maka waktu untuk pembangunannya lah yang harus ditentukan. Dimana untuk menentukan tanggal yang baik dalam mencari kayu hutan, maka diperlukan kembali seorang dukun. Biasanya untuk melihat tanggal baik atau buruk tersebut dapat dilihat dari jatuhnya kayu pada saat ditebang, dan hanya dukunglah yang tahu tentang hal ini. Agar para penghuni hutan tersebut tidak murka karena pohon-pohon telah ditebang, maka diperlukan upacara ritual persembahan yang harus dilakukan pada tahap ini.

Ngerintak Kayu

Tahap ketiga adalah para penghuni rumah harus bagi-bagi daun sirih kepada para warga desa. Hal tersebut dikarenakan sebagai bentuk permohonan agar ia dibantu dalam mengangkut kayu-kayu hutan yang telah ditebang. Sehingga jika kayu tersebut sudah sampai pada tempat tujuan, maka akan digelar juga makan-makan bersama para warga.

Pebelit-beliten

Tahap keempat, keluarga yang akan membangun sebuah rumah adat akan mengundang para pekerja untuk datang ke rumah. Dimana untuk membahas waktu lamanya dalam pembangunan dan juga upah yang harus dibayar kepada para pekerja.

Mahat

Pada tahap kelima, pembangunan rumah resmi dimulai, dimana kayu-kayu yang berasal dari hutan tersebut akan dipotong dan juga dipahat sesuai dengan peruntukannya. Pada proses peletakan batu pertama maka akan diadakan kembali upacara ritual, hal tersebut dimasukkan agar pada saat pendirian rumah bisa mendapatkan keberkahan dan juga terhindar dari hal-hal buruk.

Ngampeken Tekang

Setelah pondasi telah selesai dibangun, maka keluarga dan juga masyarakat desa akan diminta bantuan dalam proses memasang balik kayu di atas pondasi-pondasi tersebut. Hal tersebut dikarenakan, kayu-kayu balok mempunyai ukuran yang besar dan cukup berat, sehingga dibutuhkan banyak bantuan dari beberapa warga untuk memasangnya. Pemasangan atap rumah juga dilakukan pada tahap ini.

Ngampeken Ayo

Ayo merupakan anyaman bambu yang berada di bagian atap Siwaluh Jabu. Dimana pada tahap inilah ayo atau anyaman bambu tersebut akan dipasang.

Pemasangan Tanduk kerbau

Untuk tahapan terakhir ini, maka pemilik rumah harus memasang tanding kerbau pada bagian atasnya. Pemasangan tersebut harus dilakukan di malam hari dan kemudian akan diikat dengan menggunakan tali ijuk. Hal tersebut ternyata berkaitan erat dengan kepercayaan dari warga setempat yang telah meyakini bahwa tanduk bisa menolak bala. Sehingga jika ada orang yang berniat buruk akan di tangkal oleh tanduk kerbau tersebut dan tidak bisa masuk ke area rumah.

Mbengketi Jambu Simbaru

Mbengketi Jambu Simbaru merupakan proses ritual dari pemilik rumah pada saat akan menghuni rumah yang telah selesai dibangun. Dimana dukun juga akan dipanggil dalam ritual ini guna menghindari hal-hal buruk yang bisa saja terjadi. Bukan hanya itu, ada juga pesta yang diadakan sebagai bentuk rasa syukur yang digelar oleh pemilik rumah dengan mengundang para pemangku adat, kerabat, teman-teman dan juga orang sekampung.

Dalam pembangunan rumah ini membutuhkan waktu paling tidak 2 tahun dari mulai sejak awal proses pembangunan hingga tahap akhir. Karena memang arsitektur dari rumah yang cukup rumit dan juga banyak upacara adat yang memang harus diadakan.

Keberadaan Rumah Adat Karo

Hingga saat ini, rumah adat Karo atau Siwaluh Jabu hanya tinggal 5 rumah saja yang berada di Desa Dokan. Padahal pada tahun 2011, di lokasi yang sama paling tidak masih ada 7 rumah Siwaluh Jabu. Kalimat rumah tersebut adalah Rumah Mbaru, Rumah Kethek, Rumah Tengah, Rumah Sendi dan yang terakhir Rumah Mbelin. Selain berada di Desa Dokan, rumah ini juga ada di Desa Lingga. Sementara di daerah kampung Cingkes keberadaan dari rumah ini sudah hancur. Padahal dulunya masih terdapat 39 rumah dan menjadi destinasi favorit dari para wisatawan. Apalagi Material rumah adat karo bukan material sembarangan material rumah adat karo merupakan material yang didapatkan dari alam

Keunikan Rumah Adat Karo

Berikut ini merupakan 2 keunikan dari rumah adat Karo. Simak penjelasan dibawah ini!

Penjaga Siwaluh Jabu

Suku Karo sendiri meyakini bahwa dulunya ada sosok penjaga kampung dalam wujud yang gaib. Dimana sosok penjaga kampung tersebut dipercaya telah bersemayam dalam bentuk garam yang ditaruh pada wadah di langit-langit Siwaluh Jabu. Dari garam tersebutlah pada warga setempat bisa mendapatkan gambaran dari baik dan juga buruknya terhadap sesuatu. Jika garam tersebut diturunkan dan dalam posisi yang berdiri, maka dipercaya bahwa akan ada sesuatu hal yang jelek akan terjadi.

Sementara sebaliknya, jika garam tersebut diturunkan dan dalam posisi yang tidur, maka akan dipercaya bahwa akan ada sesuatu hal baik akan terjadi. Biasanya, ritual tersebut dilakukan sebelum perang atau sebelum masa tanam. Tetapi, karena upacara tersebut membutuhkan biaya yang cukup banyak, maka lama-kelamaan ritual ini sudah mulai ditinggalkan.

Struktur Tahan Gempa

Siwaluh Jabu juga ternyata tahan akan gempa. Dimana sistem tersebut hanya memakai metode tradisional yakni batang ijuk akan digunakan untuk melapisi Palas yang berada diantara kayu tiang penyangga dan juga pondasi. Batang ijuk tersebut mempunyai fungsi sebagai peredam getaran, sehingga bangunan yang berada di atasnya dapat mengikuti arah getaran dari gempa dan tetap kokoh berdiri sesudahnya.

Leave a Comment