Rumah Adat Karo Penjelasan Dan Strukturnya

Warisan Budaya Indonesia banyak sekali kekayaan yang ada pada setiap provinsi, Berikut Penjelasan dan struktur rumah adat karo.

Kekayaan Indonesia seakan tidak pernah habis, dimana banyak sekali kekayaan-kekayaan yang ada pada setiap provinsi, salah satunya rumah adat. Ya, rumah adat merupakan rumah yang mempunyai ciri khas tersendiri pada setiap provinsinya. Kali ini kita akan membahas rumah adat Karo atau Siwaluh Jabu, simak penjelasan lengkapnya dibawah ini ya!

Sejarah Rumah Adat karo

Pada provinsi Sumatera Utara terdapat salah satu rumah adat Karo yang cukup terkenalnya, rumah tersebut dinamakan Siwaluh Jabu. Keberadaan rumah tradisional ini tentunya tidak lepas dari bentuknya Kuta (kampung) yang berada di tanah Karo. Dimana pada awalnya adalah Barung, kemudian berubah menjadi Talun dan yang terakhir berubah menjadi Kuta (kampung) yang di dalamnya terdapat kesain. Artinya adalah rumah adat batak itu penting untuk setiap suku.

Dahulunya perkembangan wilayah ini diawali dengan Barung dimana hanya terdapat 1 rumah sederhana, kemudian berkembang menjadi Talun yang didalamnya hanya terdapat 3 rumah. Selanjutnya adalah berkembang menjadi Kuta yang didalamnya hanya terdapat 5 rumah dan yang terakhir adalah Kesain dimana jika kita berkembang menjadi lebih besar lagi, maka akan dipecah menjadi kasein atau pekarangan.

Siwaluh Jabu sendiri berasal dari bahasa Karo, yakni berasal dari kata “Waluh” yang mempunyai arti “angka” dan “Jabu” yang mempunyai arti “rumah”. Sehingga dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan Siwaluh Jabu adalah rumah yang didalamnya terdapat 8 ruangan dan ditempati oleh 8 keluarga. Karena daya tampung dari rumah ini terbilang cukup banyak, maka bisa dipastikan bahwa bangunan dari rumah ini cukup besar sehingga disebutlah menjadi rumah paling besar jika dibandingkan dengan rumah adat suku batak lain yang berada di Sumatera Utara.

Karena rumah ini dihuni oleh 8 keluarga, maka penempatan rumah akan diatur oleh para pemangku adat setempat. Dimana pembagian tersebut terdiri dari Jabu Jahe atau Jabu Hilir, kemudian ada Jabu Julu dan yang terakhir adalah Jabu Hulu. Sementara untuk bagian Jabu Jahe akan dipecah kembali menjadi Jabu rumah Sendipar ujung kayu dan juga Jabu ujung kayu. Keluarga yang dianggap paling utama akan berada di sisi tengah, sedangkan untuk keluarga lain akan menempati pada sisi kanan dan juga kirinya.

Peran yang diambil dari masing-masing keluarga juga ditentukan oleh para pemangku adat, dimana ada yang akan menjadi pemimpin, wakil pemimpin, solution maker, pengatur kebutuhan rumah dan masih banyak lagi yang lainnya.

Bagian-Bagian Rumah Adat Karo

Rumah adat Karo atau Siwaluh Jabu di bagi menjadi beberapa bagian-bagian berdasarkan fungsinya. Berikut ini penjelasan dari setiap bagian-bagian tersebut!

Bagian-Bagian Rumah Adat Karo

Bagian Bawah Rumah Adat Karo

Sama halnya seperti rumah panggung pada umumnya adalah adat istiadat, dimana rumah adat ini juga mempunyai kolong pada bawah rumah. Pada zaman dahulu, kolong tersebut digunakan sebagai lokasi untuk penempatan dari hewan-hewan ternak, baik itu sapi, kambing atau babi. Tetapi, seiring dengan meningkatnya kesadaran kesehatan dan juga kebersihan dari para warga setempat, maka hewan-hewan ini sudah tidak pernah ditempatkan lagi di dalam kolong. Dimana pada bagian ini akan dibiarkan kosong saja atau bisa juga dibuat untuk tempat penyimpanan kayu dan juga gerobak.

Bagian Tengah Rumah Adat Karo

Pada bagian tengah rumah akan dijadikan sebagai tempat untuk melakukan segala aktifitas keluarga, baik itu untuk bersantai, bercengkrama, memasak, makan dan juga tidur. Disinilah terdapat 4 buah jabu yang ditujukan untuk masing-masing keluarga yang tinggal di rumah adat Karo ini. Posisi jabu tersebut sudah diatur sedemikian rupa, sehingga setiap jabu akan saling berhadapan dan akan dibatasi dengan menggunakan sekat kain pembatas.

Untuk kegiatan memasak terdapat 4 buah dapur yang letaknya berada di depan jabu, sehingga 1 dapur bisa dipakai secara bersama-sama oleh 2 keluarga untuk digunakan memasak. Proses pengelolaannya pun terbilang sangat sederhana, hal itu dikarenakan dapur masih menggunakan kayu kering untuk bahan bakar dan belum beralih menggunakan tabung gas. Hal tersebut juga berlaku pada pemakaian setrika, dimana setrika masih menggunakan bara untuk menghasilkan energi panasnya.

Pada bagian atas lokasi memasak terdapat sebuah rak kayu dengan dengan posisi menggantung. Dimana pada dahulunya rak tersebut dipakai sebagai tempat untuk mengeringkan pagi sebelum ditumbuk ke dalam lesung, Tetapi tak ini sekarang sudah banyak dipakai untuk menyimpan alat-alat makan dan juga alat-alat dapur, baik itu piring, gelas, pisau dan masih banyak lagi yang lainnya.

Bagian Atas Rumah Adat Karo

Bagian atas dari rumah adat ini akan digunakan sebagai tempat untuk menaruh kayu-kayu bakar. Dimana untuk menaruhnya maka terdapat 2 buah tangga yang sudah disiapkan oleh penghuni rumah dan bersifat portable. Sehingga sangat memudahkan untuk menaruh dan juga mengambilnya kembali.

Bagian Luar Rumah Adat Karo

Bagian luar rumah Siwaluh Jabu merupakan tempat dari tumbuhnya benih-benih cinta antara pemuda dan juga gadis Karo, tepatnya pada posisi sisi depan dan juga belakang rumah Karo yang dinamakan menjadi Tire. Tempat tersebut dibuat dengan menggunakan bahan material bambu dalam posisi yang mendatar, lengkap dengan sebuah tangga yang digunakan untuk menaiki dan juga menuruni nya. Rumah Ini Merupakan Warisan Budaya Indonesia Yang sangat berharga dimata dunia.

Biasanya para gadis-gadis Karo akan menganyam tikar di tempat ini, dan pada saat itu lah para pemuda dari Karo suka datang menghampiri untuk menemani gadis-gadis tersebut. Sedangkan untuk membersihkan diri, mandi dan juga mencuci akan dilakukan pada area luar Siwaluh Jabu. Hal tersebut dikarenakan di dalam rumah memang tidak disediakan tempat kamar mandi atau tempat cucian. Karena pada zaman dahulu kegiatan bersih-bersih akan dilakukan di sungai.

Struktur Rumah Adat Karo

Berikut ini merupakan struktur dari rumah adat Karo lengkap dengan penjelasannya. Simak penjelasan dibawah ini!

Struktur Rumah Adat Karo

Tiang Rumah Adat Karo

Rumah adat ini dibangun dengan menggunakan enam belas tiang yang akan disandarkan pada batu-batu dengan ukuran yang besar, biasanya batu-batu tersebut didapatkan pada sungai atau gunung. Sebanyak delapan tiang yang akan dipakai sebagai penyangga atap dan juga lantai, sementara delapan tiang lainnya akan digunakan sebagai tempat untuk penyangga lantai saja.

Dinding Rumah Adat Karo

Dinding dari rumah adat ini juga dipakai untuk menunjang atap rumah. Dimana pada pintu masuk dan juga jendela akan dipasang telat di atas dinding yang miring, yakni di atas lingkaran balok.

Pintu Masuk Rumah Adat Karo

Rumah adat Karo merupakan rumah adat yang didirikan dalam bentuk yang simetris pada bagian kedua porosnya. Hal tersebut menyebabkan pintu masuk yang berada pada kedua sisi rumah ini akan kelihatan hampir sama. Sehingga sangat sulit dibedakan mana yang menjadi pintu utama. Pintu rumah adat ini mempunyai ukuran yang cukup kecil dan juga pendek, serta dibuat dengan daun pintu yang ganda.

Ukuran yang kecil dari pintu tersebut dimaksudkan agar setiap orang yang akan masuk ke dalam rumah adat harus dalam posisi menunduk, hal tersebut sesuai dengan adab kesopanan yang ada dalam tradisi Karo. Sedangkan untuk hiasan pada bagian kusennya akan menggunakan ornamen-ornamen rumit yang akan dibuat dengan menggunakan busur dan juga anak panah.

Jendela Rumah Adat Karo

Rumah adat ini mempunyai struktur jendela dengan menggunakan model daun jendela tunggal. Dimana jika dijumlah secara keseluruhan, terdapat 8 buah jendela yang ada di rumah adat ini, dengan masing-masing jabu mempunyai 1 jendela. Jika dilihat pada bagian kusennya, jendela ini juga mempunyai ukiran yang cukup rumit dan dibuat dari susunan busur dan anak panah.

Perapian Rumah Adat Karo

Di dalam Siwalan Kabuh telah dilengkapi juga dengan perapian yang akan digunakan untuk kegiatan memasak bersama. Dimana paling tidak tersedia 4 perapian yang ada disini, dengan masing-masing dipakai oleh 2 keluarga.

Atap Rumah Adat Karo

Atap rumah adat Karo dibuat dari kombinasi bahan material bambu dan juga pohon aren. Dimana kayu aren tersebut berada pada bagian bawah dan dilapisi dengan anyaman bambu pada bagian atasnya. Untuk bagian luar, atap ini akan dilengkapi dengan lapisan dari ijuk hitam yang cukup tebal dan akan diikatkan pada kerangkanya. Sementara untuk bagian dari bimbingannya akan dibuat dengan menggunakan jerami kering yang mempunyai ketebalan dari 15 cm hingga 20 cm.

Untuk menahan hujan deras, maka terdapat tumbuhan yang akan ditanam pada sisi terendah dari atap pertama yakni tepat pada pangkalnya sampai menjalar pada semua sisi dinding. Sebagai hiasan, pada ujung atap yang menonjol akan dipasang dengan menggunakan tikar berbahan bambu yang menarik. Dari bagian atap inilah bisa diketahui tentang status sosial para penghuninya, dengan cara melihat ukiran yang besar dan juga susunan atap yang rumit.

Leave a Comment